I Miss You(r Smile)

-Awal semester ganjil-
Siang ini, di koridor sekolah. Aku melihatmu dari kejauhan. Cara jalanmu yang membuat aku mengenalimu, lain dari anak laki-laki pada umumnya. Kau berjalan ke arahku. Kau menabrak aku lagi. Untuk yang kedua kalinya. Sama seperti saat pertama kali kau menabrak aku, aku tidak memberikan respon sedikitpun kepadamu. Aku tertunduk, dan kau terus berlalu

-Pertengahan semester ganjil-
Jam istirahat, di kantin sekolah. Aku tau kau memperhatikan aku. Aku sebisa mungkin menghindari tatapan matamu. Bukan tatapan matamu sebenarnya, tapi senyum yang kau punya. Aku diam-diam mengagumi senyum yang kau miliki itu. Dan aku tidak mau kau mengetahuinya

-Akhir semester ganjil-
Sudah satu semester ini kau bisa dibilang hobi menabrak aku. Aku tidak mengerti apa modusmu. Yang aku tau kau menabrak aku, dan tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata dari bibirmu itu. Aku seringkali memalingkan wajahku ketika kau tersenyum. Sampai akhirnya senyum yang ada itu hilang ditelan tawa kau bersama teman-teman kau.

-Awal semester genap-
Senyum khas darimu semakin jelas. Semakin sering terbayang hampir setiap saat dalam lamunanku. Aku sangat menyukai senyum yang kau punya itu. Tapi aku merasakan kejanggalan. Aku kehilangan dirimu. Aku kehilangan sosok anak laki-laki yang suka menabrak-ku lalu tersenyum. Sudah sekitar 2 minggu pada awal semester genap aku tidak melihatmu. Aku hampir tidak mempercayai apa yang aku rasa. Dan aku berharap akan segera melihat senyum itu lagi besok atau lusa, secepatnya.

Matahari yang terik begitu terasa menimpa kepalaku saat perjalanan pulang ke rumah. Aku masih tidak mempercayai kabar yang aku dengar di sekolah tadi. Aku duduk di tepian ranjangku. Mencoba mengingat dengan jelas perkataan teman-temanku. Kau meninggal dalam kecelakaan pagi tadi. Tanpa sadar setitik air mata mengalir lembut di pipi kiriku, disusul setitik lagi pada pipi kananku, dan akhirnya aku menangis dalam diam. Aku bukan hanya kehilangan senyum itu, aku juga kehilangan dirimu. Harapan aku untuk dapat melihat senyum dan juga dirimu secepatnya terhapus bersama airmata yang sesegera mungkin aku hapus ketika seseorang mengetuk pintu kamarku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s