I Miss You(r Smile) #2

Ternyata mama yang mengetuk pintu kamarku. Aku membukanya dengan mata agak sembab, tapi tidak seperti biasanya mama tidak mempertanyakan keadaanku, aku agak sedikit tertolong. Mama meminta aku secepatnya menyelesaikan makan siangku, karena mama mengajak aku ke rumah kerabat jauhnya. Tidak biasanya mama mendadak seperti ini. Entah kenapa baju yang aku dan mama pakai berwarna hitam. Aku, aku mungkin mengikuti suasana hatiku yang sedang berkabung karena kepergian anak laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal. Aku susah payah menahan air mata yang hendak keluar membasahi pipiku. Aku melihat ke arah mama, mukanya datar cenderung ke muram, tidak seperti mama yang biasa.

Di depan rumah itu masih ramai orang-orang berbaju hitam, aku melihat bendera kuning di dekat pintu gerbang yang terhalangi oleh seorang pria. Aku turun dari mobil, memperhatikan sekeliling, ternyata kerabat mama sedang berkabung juga, sama seperti aku. Aku memenuhi ruangan yang penuh isak tangis dan kehilangan itu. Mataku menelusuri hampir setiap detail di ruangan ini. aku mengenal senyum itu, senyum bocah laki-laki kisaran 6 atau 7 tahun dalam foto keluarga itu. Senyum bocah laki-laki itu mirip senyum yang dimilikinya, senyum anak laki-laki yang sering menabrak aku, mirip sekali.

Setelah menyalami dan menyampaikan turut berduka cita, aku terduduk. Perasaanku semakin tidak karuan, airmata ini semakin memaksa untuk dikeluarkan. Aku mendapati satu foto, aku mengenali wajah dan senyum dalam foto itu. Aku bangkit dan melangkahkan kakiku menuju foto itu. Antara percaya dan tidak, itu adalah anak laki-laki yang diam-diam aku kagumi senyumannya. Agak tersentak aku saat seseorang menyentuh pundak-ku. Aku menoleh, mendapati wajah yang agak mirip dengan wajah pada foto yang aku perhatikan, tapi dengan keadaan mata dan hidung yang merah, tidak semerah yang lainnya. Mungkin, laki-laki ini lebih tegar menghadapi keadaan ini, sudah seharusnya seperti itu.

Air mataku membanjiri pipiku, kali ini aku tidak menahannya, tidak juga menghapusnya. Laki-laki tadi merangkulku, seperti merangkul adik kandungnya, mencoba menenangkan aku. Aku terisak, ternyata jenazah yang ada di ruangan ini adalah tubuh dia -anak laki-laki yang suka menabrak dan tersenyum kepadaku-. Waktu seakan terhenti, aku hanya diam, menangis, menangis dalam diam. Aku ditemani kakak laki-lakinya yang masih berusaha menenangkan aku. Air mataku dengan leluasa membasahi wajahku. Kemudian aku tersadar, jadi ini rupanya. Alasan kenapa aku begitu yakin dengan pakaian hitamku saat diajak mama berkunjung kesini dan juga alasan kedataran ekspresi wajah mama saat di mobil tadi. Aku berusaha menenangkan pikiran dan hatiku. Aku berusaha menerima keadaan ini. Aku yang kehilangan senyum-mu, dan juga dirimu. Tapi paling tidak, aku mengantarmu sampai ke tempat peristirahatanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s