I & I

Sore yang teduh, di taman yang tenang. Seorang gadis sedang menyusuri taman sendirian, sambil membuang waktu menunggu sahabatnya datang. Gadis itu duduk di sebuah bangku taman, tidak jauh dari area bermain anak-anak balita. Icha, gadis yang sedang duduk di bangku taman, yang sangat menikmati pemandangan di sekitarnya. Icha sangat menyukai anak-anak, bahkan ia beberapa kali tersenyum senang dan ikut tertawa akan pola tingkah mereka. Icha melihat pergelangan tangan kirinya, sudah lewat 25 menit dari waktu yang dijanjikan sahabatnya itu. Icha menarik nafas panjang, mencoba menata kembali suasana hatinya yang mulai tidak beres akibat menunggu. Tangan kanannya melepas jam tangan di pergelangan kirinya, menyimpannya di tas. Ini merupakan salah satu cara agar ia tidak terus menerus memperhatikan waktu, agar ia tidak emosi menunggu sahabatnya itu.

Hari berikutnya, di tempat yang sama, tapi sore ini matahari agak memaksa Icha untuk mengernyitkan keningnya, silau. Di sebelahnya telah duduk seorang laki-laki sebayanya, sahabatnya, Ican. Mereka berdua masih terduduk dalam diam, tidak saling menatap, seperti masih beradaptasi satu sama lain. Icha menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan, mencoba bersabar dan mengalahkan egonya untuk memulai sebuah obrolan. Ican menoleh, pandangannya datar sedetik kemudian Ican tersenyum.

“Kemarin gue ketiduran, Cha. Sorry ya” Ican harap-harap cemas, masih takut kalau-kalau sahabatnya itu tidak bisa menerima alasannya.

“Ga masalah. Gue tau kok lo baru banget pulang.”

Ican masih memperhatikan Icha, berharap ekspresi wajah Icha berubah jadi Icha yang riang. Sedangkan Icha masih memandang lurus ke depan, masih dengan ekspresi wajah yang datar, seakan tidak memperdulikan Ican. Laki-laki itu hampir putus asa, memalingkan wajahnya sebentar dari wajah Icha lalu menarik nafasnya dalam-dalam, Ican geregetan. Kedua telapak tangan Ican telah berada di pipi Icha, menghadapkan wajah Icha dengan wajahnya. Ican tersenyum, lalu berubah kembali ekspresi wajahnya jadi senyum kuda memamerkan gigi-giginya.
Ekspresi Icha masih datar, tapi terlihat seperti menahan tawa. Di dekatkan kening Icha ke keningnya, Icha tersenyum, agak geli dengan kelakuan sahabatnya itu, lalu mendorong Ican agar menjauh.

“Akhirnya minggat juga sosok monster dalam diri lo itu, Cha… Cha…” Ican tersenyum senang, merapihkan kemejanya, lalu kembali menatap Icha.

“Lo tuh ya monster. Geli tau ga sih. Gue tau sih jidat lo lebar, gausah di adu juga sama jidat gue.”

Ican mengernyitkan dahinya, berusaha melihat keningnya, lalu mengusap-usap keningnya sendiri, “ah ga selebar lapangan terbang kok, Cha. Tenang aja. Lagian gue ganteng ini.” Ican tersenyum, mengedipkan matanya ke Icha.

“Maleees…” ekspresi muka Icha kini menunjukan ke-jijik-annya akan kalimat yang baru saja dilontarkan Ican, tapi kemudian berubah lagi menjadi riang. Mereka terhanyut dalam tawa, Icha sudah melupakan kesemrawutan emosinya, dan Ican berusaha mencari waktu yang tepat untuk menceritakan kisahnya, agar tidak merusak tawa sahabatnya itu.

Sekitar setengah jam mereka tertawa lepas, Ican memutuskan untuk menceritakan apa yang dialaminya belakangan ini, perasaannya.

“Jadi lo beneran mutusin Nesha?” ekspresi Icha terkesan biasa, tidak ada keterkejutan mendengar sahabatnya itu putus cinta. “Terus sekarang udah jadian sama si… siapa namanya? Stella?”

Ican tersenyum, terkesan dipaksakan. Sebenarnya Ican bingung harus ber-ekspresi seperti apa.

“Ditanyain malah senyum nahan boker sih, kalo di jidat lo yang lebar itu ada jawabannya sih ngapain gue nanya, Can.” Icha berlagak emosi. Ican terkekeh geli melihat Icha seperti itu.

“Baru deket aja sih, belum jadian. Masih mencari-cari. Dan masih dibuat penasaran aja.” Kalimatnya begitu lancar keluar dari bibir mungil Ican. Icha hanya meng-o panjang dengan muka polos tak berdosa.

“Yakin mutusin Nesha gara-gara Stella? Alasannya apa ke Nesha?”

Pertanyaan Icha terkesan cuek dan sekedar formalitas. Ican kembali memamerkan gigi-giginya, “Gue suka sama cewek lain. Hehe…” Icha terbelalak, ditinju tanpa tenaga lengan kiri Ican, “Sakit jiwa dasar ye, otak lo berarakan ya Can?”

Ican hanya diam, sekarang gantian Ican yang pasang ekspresi wajah datar. Mereka berdua terdiam, Icha memandangi langit, Ican sibuk dengan lamunannya.

“Cha, gue ga mau bohong kalau misalkan alasan gue mau sendiri atau apalah alasan-alasan basi lainnya. Terus nanti tau-tau gue jadian sama Stella, kalau jadian ya, terus tau-tau si Nesha tau gue jadian sama Stella, idih jatuh turun derajat gue dong.”
Icha hanya tertawa, bukan tertawa senang, hanya sekedar bumbu.
“Ini aja lo udah turun derajat depan gue, Can. Komitmen itu. Tapi ya terserah lo, mudah-mudahan aja ga nyesel ya Can yaaa”.
Ican tersenyum berusaha tetap tenang, “Gue antar lo pulang yuk.” Lalu bangkit dari duduknya, disusul dengan Icha. Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan bangku taman yang selalu menjadi saksi bisu cerita mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s