Lil’ Smile

Selasa malam ini aku terduduk sendiri di teras rumahku, sambil ditemani secangkir coklat hangat, aku memandang ke langit yang bertabur bintang, sayang malam ini hanya ada sedikit. Semilir angin malam. menerpa tubuhku. Dingin memang, tapi aku merasa tenang dengan keadaan ini. Ditempat ini memang aku biasa merenung, tentang apa saja. Bahkan hal-hal tidak pentingpun terkadang aku renungi. Aku meraih handphone kesayanganku yang selalu menemani hari-hariku, lalu membuka pesan yang baru saja masuk. Tertera namamu, tanpa sadar bibirku membuat lekukan, aku tersenyum.

Awalnya aku tidak terlalu menggubris keberadaanmu, tapi entah kenapa kelamaan aku mulai ada rasa tertarik untuk lebih dekat lagi. Aku dan kamu memang tidak pernah berteman dekat sebelumnya, hanya sekedar tau, itupun karna kita bersekolah di sekolah yang sama. Aku sering kali merasa canggung saat online chat denganmu. Via jejaring sosial, itulah cara awal agar aku tetap bisa bercakap-cakap denganmu. Sampai akhirnya aku mendapatkan nomor handphone-mu. Aku mulai mengirimu pesan-pesan yang mungkin menurutmu tidak penting, aku juga merasa memang tidak penting. Karena ketidak-pentingan itulah aku tidak pernah berharap kamu membalas pesanku. Tapi jika handphone-ku berdering menandakan pesan masuk, dan ternyata aku melihat namamu, aku akan tersenyum. Hanya sekedar pesan balasan padahal, ya aku tau hanya sekedar pesan.

Aku belum bisa… mungkin aku belum cukup mempunyai keberanian untuk mengatakan ini semua kepadamu. Tapi nanti aku akan memberitahukanmu semuanya. Untuk saat ini kamu hanya perlu tau aku yang suka mengirimi-mu pesan-pesan singkat yang tidak penting, kamu belum perlu tau kalau aku ada ketertarikan denganmu. Lagian, kalau kamu tau, apa akan merubah segalanya? Maksudku, apa kamu akan berubah? Bisa menjadi lebih menyenangkan atau kemungkinan buruknya bisa jadi tidak menyenangkan. Jika iya, aku belum siap kamu berubah, tapi jika tidak, ya tidak apa-apa. Atau mungkin kamu sudah tau aku ada ketertarikan denganmu? Ya sudah, aku buka tipikal orang yang suka menyembunyikan perasaanku selamanya. Jadi cepat atau lambat aku pasti akan jujur kepadamu.

Mataku kembali tertuju ke langit, memandangi bintang-bintang lagi. Aku tersenyum dalam ketenangan. Diluar semakin dingin dan aku semakin mengantuk jadi aku memutuskan untuk masuk. Aku bersiap-siap untuk pergi tidur, pergi ke dunia mimpi. Setelah mengirimu ucapan selamat malam, mataku terpejam, belum nyenyak memang. Sampai kau membalas ucapanku, aku membacanya dan tersenyum. Terima kasih karena hampir setiap malam kamu memunculkan kembali senyum-ku. Sekarang, aku tertidur dengan senyum mengembang di wajahku.
Selamat malam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s