Ibarat Bangkai

Sebut saja Indi, dan Nao, sebagai rivalnya. Nao mantan kekasih Evan, laki-laki yang sekarang menjalin hubungan dengan Indi.Sore itu kelam, sama seperti hubungan Evan dan Indi yang semakin suram. Evan terlalu banyak menyembunyikan hal dari Indi, terutama soal Nao. Diam-diam Evan menghubungi Nao jika sedang tidak bersama Indi. Dan sore ini semua terungkap, saat Nao baru membalas pesan singkat Evan. Emosi Indi tersulut seketika, wanita ini gelap mata. Evan terdiam belum mengerti harus bertindak bagaimana.

Nao duduk sendiri menanti Indi yang berjanji akan menemuinya malam ini di cafe. Indie datang, Nao tersenyum dan mengulurkan tangan. Indi mengacuhkan dan langsung duduk di kursinya.
‘Sombong sekali perempuan ini’ – bathin Nao.Nao memejamkan mata agak lama, memohon kesabaran untuk menghadapi Indi. Emosi Indi belum mereda semenjak pertengkarannya dengan Evan.

“Bisa ga lo ga usah ngehubungin Evan lagi?” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Indi tanpa basa basi. Nao tersenyum kecil, menahan tawa.

“Seharusnya, sebelum Anda menanyakan itu kepada saya, tanyakan itu sama Evan terlebih dahulu.” Nao masih tersenyum kecil, sedikit mengumpat dalam hati.

Emosi Indi semakin memuncak. Mencoba terlihat tetap stabil, tapi Nao bisa melihat ketidak-stabil-an yang ada pada Indi. “Evan bisa kok ga ngehubungin lo lagi, bisa banget.” Ekspresi muka Indi semakin dingin. Nao kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. Diambilnya handphone yang menemani hari-harinya.

“Wanna see my call history? Or my messages?” Nao menawarkan sambil menjulurkan handphone ke arah Indi. Indi kebingungan. Di satu sisi ia ingin mengetahui segalanya antara Evan dan Nao, di sisi lain ia masih takut tidak bisa terima apa yang Evan lakukan. Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya Indi memutuskan untuk melihat apa yang ada di handphone Nao.
Indi sangat terkejut akan apa yang ia lihat. Mukanya memerah entah karena malu atau marah, atau mungkin keduanya. Indi mengembalikan handphone Nao, dan terdiam wajahnya kini agak pucat. Nao tersenyum, mengambil handphone-nya dan pamit pulang, urusannya sudah selesai.

Indi masih duduk terdiam, tidak tau apa yang akan ia perbuat ke Evan. Masih terbayang semua yang ia lihat di handphone Nao. Ternyata selama ini Evan yang gencar mengirimi Nao pesan singkat, Evan yang gencar menghubungi Nao. Indi bingung, hati dan pikirannya menjadi kacau setelah mengetahui semuanya. Dan kebingungan Indi bertambah karena sekarang ia sedang mengandung anak dari Evan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s