Terlanjur Pergi

Untuk kesekian kalinya, telepon genggamku berbunyi disaat aku sedang tidak ingin berurusan dengannya. Namun begitu melihat nama yang tertera di layarnya, segera aku menjawab panggilan yang entah penting atau tidak

“kerjaan kamu udah selesai belum?” 

Akhirnya aku mendengar suaranya lagi setelah dua minggu kami tidak bertemu muka, bertukar suara dan bertahan membaca teks. Aku belum menjawab pertanyaannya, masih terdiam memandangi beberapa dokumen yang harus aku selesaikan malam ini.

“Ri… gimana?”

Aku hanya menghela nafas panjang untuk menjawab pertanyaannya. Mungkin laki-laki ini sedang tersenyum gemas di ujung sana.

“Yaudah kalo belum bisa. Kerjaannya diselesaikan ya, Ri. Jangan twitteran dulu sebelum selesai.”

“Hahaha… iya. Aku juga tau diri kali. Tenang ajaaaaa”

“Kamu kan suka gitu tau-tau nongol di Twitter”

“Aku nongol di semua tempat”

“SAKTI BANGEEET…”

“HEH! Nyantai sih ngomongnya”

Galih tertawa, aku tersenyum, membayangkan tawa dan ekspresi wajahnya. Biasanya, aku akan langsung bersikap manja ketika Galih berhasil meledek seperti tadi.

“Aku ke taman sendirian ya. Besok kalo bisa, aku jemput.”

“Jemputlah. Harus.”

“Kalo bisa”

“Harus bisa. Pake permadani terbang atau sapu terbang”

“Yeee. Emang kita om jin”

“Mirip… Perutnya”

“Ri…” kali ini gantian aku yang tertawa.

“Jangan lupa jaket ya. Hati-hati.”

Sambungan diputuskan. Aku kembali menarikan jemariku untuk menyelesaikan pekerjaan yang menahanku untuk bertemu Galih. Rinduku memang tidak tertahan, tapi pekerjaan ini lebih tidak bisa ditinggalkan.



Pemandangan pertama yang aku lihat hari ini adalah laptop kesayanganku, aku tertidur di sampingnya. Aku memeriksa telepon genggamku dan mendapati beberapa kali panggilan yang tidak terjawab dari ponsel Galih dan dari nomor rumahnya. Tidak biasanya Galih memakai telepon rumah. Dua kali aku menghubungi nomor Galih namun tidak ada jawaban. Aku coba menghubungi ponsel Galih sekali lagi, suara anak laki-laki berumur 10 tahun menyapaku di seberang dengan terisak dan perasaanku mulai tidak karuan, berdebar-debar.

“Kak Riri kesini aja… Biar mama sama papa yang ngomong sama kakak. Ekky ga tau apa-apa, kak.” 

Suara anak laki-laki ini masih tetap menggemaskan bahkan ketika isak tangisnya masih ada di sela-sela kalimatnya.  Aku segera meluncur ke kediaman Galih. Aku masih berharap semua akan baik-baik saja, walau mungkin keadaan disana sedang tidak baik.

Semuanya hitam, gelap, muram, dan basah, itulah pemandangan yang aku lihat saat mau memasuki pintu rumah Galih. Mereka semua mengenakan pakaian hitam dan aku mengenakan kemeja merah yang menjadi kesukaan Galih. Galih pasti akan senang ada perpaduan si merah di tengah-tengah si hitam. Ah manusia macam apa aku ini masih sempatnya memikirkan hal itu. Bocah laki-laki yang berbicara denganku di telepon tadi sekarang sudah menggelendot kepadaku, seperti butuh perlindungan. Bocah laki-laki ini memandangiku, tatapannya menyiratkan kehilangan yang mendalam, mirip seperti tatapan Galih saat kami kehilangan salah satu sahabat kami. Galih! Aku belum menemuinya sejak dia pulang dari Thailand dua minggu yang lalu.

Ekky, adik semata wayang Galih menuntunku untuk menemui orang tuanya. Pertama aku bertemu muka dengan papanya Galih, wajahnya tidak basah namun terlihat sangat letih. Aku semakin mendekati pusat kesedihan untuk menemui mamanya Galih. Di tengah ruangan itu tertidur untuk selamanya jasad seorang laki-laki yang belum bisa aku kenali wajahnya. Tubuhku kutarik mundur beberapa langkah, perasaanku mulai tidak karuan, airmataku sudah tidak terkontrol.

Seperti mengalami mimpi buruk di dunia nyata. Tubuh yang berada di tengah ruangan dan ditangisi orang ini merupakan jasad Galih. Bibirku tidak lagi mampu mengeluarkan kata-kata. Mataku memanas, wajahku sudah semakin basah. Sekilas aku melihat Ekky sedang memeluk pinggangku dengan erat, lalu semuanya gelap.


Lukisan wajah Galih menyambut seiring semakin terbukanya mataku. Mungkin aku tadi hanya bermimpi buruk akibat pekerjaan yang bertubi-tubi akhir ini. Ruangan ini penuh dengan warna merah, warna kesukaan Galih. Aku rasa nalarku sedang menurun, karena baru beberapa saat setelah aku memperhatikan benda-benda di ruangan ini selain lukisan wajah Galih, aku baru sadar bahwa ini adalah kamar Galih. Iya, aku tersadar ini kamar Galih, lalu dimana Galih? Aku seperti orang linglung. Ingatanku perlahan-lahan kembali, aku sempat melihat dalam mimpi kalau tubuh Galih tergeletak di tengah ruang dan ditangisi. Suara tangisan itu juga semakin jelas di telingaku, separah inikah efek yang ditimbulkan oleh sebuah mimpi? Entahlah.

Keputusanku untuk meninggalkan kamar Galih sepertinya cukup tepat, tapi tetap tidak menghilangkan suara tangis yang masih terngiang di telingaku. Rasanya, setengah jiwaku masih melayang bebas di alam mimpi, antara sadar dan tidak. Langkah kakiku menuju ruang tengah, dimana mimpi buruk tadi berlangsung dan menjadi kenyataan. Orang-orang berpakaian hitam dan menangis. Seorang wanita paruh baya tapi tetap terlihat cantik bahkan saat air mata memenuhi wajahnya itu menghampiri aku, mamanya Galih, beliau memeluk tubuhku.  

Advertisements

5 thoughts on “Terlanjur Pergi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s