When…

FLASHBACK MODE: ON


Dering meriah dari handphone yang menandakan ada panggilan masuk mengusik tidur tenangku. Aku melihat jam yang ada di layar handphone sebelum mengangkat telfonnya, 23:55. Tidak terucap kalimat serapah dari bibirku namun perasaan agak kesal baru saja akan menjalari tubuhku.
 
Halo” Sapaku singkat tidak ada manis-manisnya sedikitpun.
 
Halo… Selamat ulang tahun ya…” suara laki-laki dan aku tidak mengenalnya. Aku kembali melihat layar handphone ku. Masih tanggal 8 toh rupanya, masih ada juga yang ingat.
 
Iya terima kasih…” muncul sebuah kesenangan tersendiri yang mampu menghapus sedikit kesalku.
 
Berikutnya, doa-doa dipanjatkan oleh laki-laki di seberang dan aku meng-amin-kannya.
 
“Terima kasih banyaaak. Tapi sorry… ini siapa?” well, aku merasa sangat bodoh baru menanyakan ini pada menit kesekian percakapan berlangsung.
 
“Astaga… jadi dari tadi ga tau ini siapa?” Aku mendengar tawa kecil di sela-sela kalimat tanyanya ini.
 
“Engga… sorry…” jika laki-laki ini bisa melihat ekspresiku yang sekarang, entah apa yang akan dia lakukan kepada seorang cewek yang nyengir-nyengir polos ngerasa bersalah karena ga ngenalin suaranya.
 
“Beneran ga ngenalin suaranya? Emang udah berapa lama ga ketemu sih?”
 
DANG!!! Hello… gue aje ga tau elo siape, terus gimane gue tau kapan terakhir kali kita ketemu…
 
sisi brutalku tiba-tiba bangkit tapi untungnya tidak sampai tersalurkan ke laki-laki ini. Jadi aku hanya menjawab, “Beneran ga tau. Ini siapa?”
 
“Ini Ajuno.”Sambil sedikit tertawa. Mendengar nama itu, aku langsung tertawa senang.
 
“Astaga… Ajuno… ih maaf banget kan ga tau.”
 
“Ya kirain ngenalin suaranya, ternyata engga. Udah berapa lama ga ketemu sih?”
 
“Ya kan ga pernah telfon gini juga. Terakhir tuh 5 tahun yang lalu kalo ga salah. Gimana kabar?”
 
“Hahaha… lama juga ya. Baik kok baik.”
 
“Nanti kapan-kapan ketemu ya! Tumben sih nelfon gini. Hahaha…”
 
“Yeee… jangan digituin, nanti mati nih abis pulsanya…”
 
“Oh iya-iya… Oke ditarik lagi kata-kata yang tadi. Udah dirumah?”
 
Lalu sunyi… telfonnya beneran mati. Kampret! Dalam hatiku. Diteruskan dengan berkirim SMS akhirnya. Ingatan-ingatanku tentang Ajuno menyeruak. Aku tersenyum kecil, pernah ada perasaan suka tapi tidak ingin memiliki, hanya suka sementara saja. Setelah itu, aku membaca cerita cintanya yang sepertinya dia sedang tidak bisa berpaling dari seorang wanita yang digilainya. Yah… apa boleh dikata, sudah jalannya perasaanku tidak berkembang dan biarkan seperti itu, jangan diganggu.

 

FLASHBACK MODE: OFF
Tawa atau minimal sebuah senyuman akan menghiasi wajahku jika aku berani menelusuri kembali apa yang telah aku dan Ajuno lewati.
 
“Aleya… Hey… Kenapa?” Ajuno menatapku heran.
 
“Ga kenapa kok.” Jawabku, masih dengan sisa-sisa senyum akibat lepasnya kendali atas pikiranku menjelajahi cerita yang lalu.
 
“Ga jelas.” Lalu merangkulku yang aku balas dengan pelukan erat.
 
 
***
 
Merapikan file saat weekend menjadi kebiasaanku semenjak semakin padatnya pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sebuah dokumen yang dari judulnya saja sudah bisa dikenali merupakan dokumen milik Ajuno, sebuah cerita yang diikut sertakan dalam lomba menulis cerita semi-17+, manarik perhatianku. Tapi terkalahkan oleh file berisi cerita mistis yang belum sempat aku jamah sedikitpun.
 
Kegiatan merapikan file pun tertunda karena keinginan besar untuk menelusuri kumpulan cerita mistis yang aku dapat dari kawanku ini. Hanyutlah akhirnya aku bersama cerita-cerita yang memacu adrenalin ini. Handphoneku berdering, mengejutkanku di tengah-tengah ketegangan yang sedang menjalari seluruh tubuhku.
 
“AJUNOOO!!! “
 
“Ih kenapa sih? Kok langsung gitu? Tumben?” Ajuno menyadari nada bicaraku tidak seperti biasanya, aku pun baru menyadari kalau sapaanku seakan kesal karena terkejut, tapi memang itu adanya.
 
“Aku kaget tau nih gara-gara kamu telfon.” Suaraku melunak dibanding tadi.
 
“Kok kaget? Emang lagi ngapain?”
 
“Lagi baca kumpulan cerita mistis yang aku bilang itu”
 
“Hahaha… sok sih. Udah tau penakut, bacanya yang kayak gitu, sendirian pula.”
 
“Masa mau berjama’ah? Situ lagi sholat pake berjama’ah segala?”
 
“Kaga sekalian tawuran, neng?”
 
“Kaga ah. Kenapa? Tumben telfon?”
 
“Hahaha… mau ngasih tau, cerita aku menang, juara 3.”
 
“Wah… selamat ya, dear.”
 
“Janjimu ya… aku kan menang.
 
Oke… Tenang aja, princess Aleya pasti menepati janji.
 
Good! Udah sih ngasih tau itu aja. Kamu lanjut baca gih, aku mau ngerampungin tulisan lagi.”
 
“Oke, komandan!”
***
 
 
Alunan piano dari Yiruma bergantian dengan suara Eminemlah yang dapat menenangkanku menyambut akan datangnya ketidak stabilan emosi. Kalimat yang sama sekali tidak bisa dikategorikan menusuk pun seakan jadi running text premium seperti di jembatan penyebrangan depan Margocity dan Depok Town Square.
 
“Itu cerita yang dipotong dari cerita Kejebak Friendzone. Sex scene nya.”
 
Saat itu aku hanya ber-“oh” sambil berusaha mengendalikan diri untuk tidak mengorek informasi yang nantinya akan membuatku kalang kabut sendiri.
 
 
Nalarku baru berfungsi, lambat sekali seperti proses kerja computer berpentium satu. Jadi menurut kesimpulanku, jika cerita yang menang lomba juara 3 itu sex scene yang dipotong dari cerita Kejebak Friendzone, maka cerita semi-porno yang dibuat itu merupakan kisah nyata. Yah, akui saja kalau Ajuno-ku bukan lelaki baik-baik, aku pun bukan termasuk ke dalam perempuan yang menganggap hal semacam itu sebagai sebuah kehinaan atau sejenisnya.
 
Untuk urusan Ajuno pernah atau bahkan sering melakukan hubungan sex, kami pernah membahasnya. Entah obat apa yang pernah tertelan olehku sehingga aku tidak ambil pusing mempersiapkan rencana ini-itu setelah mengetahuinya. Ajuno, aku, kami sama-sama pernah melakukan hubungan sex dengan orang-orang di masa lalu kami, siapapun itu, bukan merupakan suatu hal yang penting lagi, menurutku.
 
Seberapa besar pun aku meluapkan amarah, sakit hati dan emosi yang menurutku lagi jauh dari kategori baik, tidak akan pernah merubah yang sudah dilewati dan tidak akan pernah mengembalikan apa yang telah terambil. Lagian, itu cerita lalu, semua orang punya cerita lalu, baik atau buruk sekalipun. Kalau tidak mau tersakiti karena cerita masa lalu, berhubungan saja dengan anak bayi yang baru lahir. Jadi, daripada pikiran dan emosi dimenangkan oleh hal yang bisa membuat negatif, lebih baik berusaha untuk menciptakan hal positif yang menyenangkan, menurutku. Lamunan dan airmata sudah sirna dari diriku ketika pintu diketuk. Ajuno sudah datang, lebih baik bersenang-senang.
Advertisements

One thought on “When…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s