Terlanjur Pergi (part 2)

Tubuhku tidak menolak pelukan erat dari wanita yang juga sudah aku anggap seperti ibuku sendiri. Pipiku basah tanpa sempat aku sadari. Setelah beliau melepas pelukannya, aku memberanikan diri untuk mendekati jasad dan melihat wajah siapa gerangan yang ada di balik kain penutup itu. Seketika aku percaya bahwa apa yang aku alami bukanlah kejadian alam bawah sadar. Wajah polos Galih sedang tertidur, lepas seperti tidak ada beban dan bahagia. Air mataku semakin tidak terbendung karena pemandangan di depanku. Tidak ada lagi yang ingin aku lakukan selain memandangi wajahnya sebelum menghilang selamanya. Bahkan untuk menghapus banjirnya airmata di kedua pipiku pun aku enggan.

Galih sudah berada di tempat peristirahatan terakhirnya. Mungkin dia belum menemukan ketenangan walaupun doa yang mengalir untuknya tiada pernah terhenti, sama seperti airmata yang mengiringi kepergian selamanya itu. Aku salah satu yang belum bisa merelakan kepergian Galih yang tidak akan pernah kembali.

Air mancur di halaman rumah Galih menjadi objek perhatianku. Aliran airnya masih bisa mengalahkan derasnya air mataku, namun belum bisa mendamaikan hati dan pikiranku. Seketika bayangan Galih muncul terduduk tepat di sebelahku, dan aku berhalusinasi seperti sedang bersandar nyaman pada bahunya. Bayangan seperti ini yang membuat kedua pipiku semakin basah, hidungku semakin susah bernafas, dan dadaku semakin terasa sesak. Aku kehilangan Galih, untuk selamanya.

Kenangan tentang Galih kembali muncul. Saat dua bulan lalu aku dan dia duduk di halaman ini, muak akan rutinitas kami dan saling bersandar. Kala itu aku mempertanyakan hal yang menurut Galih sangat konyol

“Kalau ternyata, aku mati duluan, gimana?”

“HEH! Sembarangan kalo ngomong.” Kedua tangannya mencubit pipiku gemas.

Kembali mengalir air mata yang memang sangat tidak bisa ditahan untuk kali ini. Mungkin setelah ini, hobi membacaku akan berubah menjadi merindukan kamu, Galih. Tidak perlu mempunyai pacar dulu baru merasakan kehilangan. Dengan kejadian ini, aku sudah merasa seperti ditinggal selamanya oleh kekasih tercinta. Sayangnya, Galih hanyalah ingin berteman denganku, bukan menjalin hubungan yang lebih dari teman.

Tangan kecil yang mendarat di pundak kananku, membawaku kembali ke dunia nyata. Ekky telah berdiri di belakangku, membawa laptop merah kepunyaan Galih.

“Kak Riri, mau simpen ini ga?” Anak ini memperlihatkan aku layar yang berisikan foto diriku. Aku mengajaknya duduk dan mengambil alih atas laptop Galih. Aku perhatikan folder yang telah dibuka Ekky. Isinya foto-foto hasil jepretan Galih, foto diriku yang sadar dan tidak sadar tertangkap kamera Galih. Sebanyak ini ternyata. Di folder itu aku mendapati beberapa file yang berbeda, isinya tulisan.

“Katanya, orang akan merasakan sesuatu yang berharga kalo udah kehilangan. Buat gue, waktu gue dan Riri merupakan satu dari sekian banyak hal yang berharga. Berharga banget. Semenjak dia naik jabatan, waktunya buat ketemu, bahkan untuk sekedar ngopi cerita tentang keseharian aja terbatas banget. Padahal gue ga minta dia ninggalin kerjaannya. Dia bisa kok ketemu gue sambil ngerjain kerjaannya, kalo dia mau. Tapi dia ga pernah mau. Alasannya? ‘Aku mau fokuslah sama kamu, makanya kerjaannya dikelarin dulu’. Ribet sih emang, tapi ya emang gitu, dasar cewek! Tapi itu yang bikin gue seneng, dia bener-bener nyedian waktu khusus tanpa diganggu sama kerjaan sekalipun. Gue jadi berasa pacarnya Riri. Dari bibir emang keluarnya kata ‘teman’, tapi prakteknya? Orang yang pacaran aja gue rasa kalah perfect nya sama gue dan Riri. Kalo gue dan Riri pacaran, mungkin akan dapat predikat ‘The best couple in the world’. Iya! Pacaran! Gue akan ngomongin ini sama Riri sekembalinya gue dari sini.”

Rasa penasaran menjalar di tubuhku. Sadarkah Galih ketika dia mengetik semua ini? Kalau sadar… Ah tidak tahu aku ingin berbuat apa, seperti semuanya terlambat. Entahlah. Dokumen lain aku temukan di folder yang sama.

“Perempuan yang masih tetap sibuk dan ga bisa di ganggu gugat. Itulah calon istri gue. Gue mau langsung lamar Riri begitu dia ngambil nafas dari sekian banyak kerjaan yang harus diselesaikannya. Kali ini gue ga boleh menyia-nyiakan Riri yang jelas-jelas udah ngakuin soal perasaannya ke gue. Penugasan gue di Thailand, kesibukan Riri yang ngalahin ibu-ibu pejabat, bikin gue sadar akan segimana pentingnya dia dalam hidup gue.”

Kembali aku merasakan sesak yang diiringi dengan derasnya air mata membasahi kedua pipiku. Lagi. Entah untuk keberapa kalinya air mataku mengalir tidak tertahan, tidak terkendali. Aku lelah menangis, aku tidak ingin membuat Galih tidak tenang, tapi aku tidak bisa pura-pura untuk tegar menghadapi ini.

Terlanjur Pergi sebelumnya

Advertisements

One thought on “Terlanjur Pergi (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s