Terlanjur Pergi (part 3)

Tangan kecil dari bocah laki-laki di sampingku mencoba menghapus tangisku. Gerakannya amat perlahan dan menghasilkan air mataku semakin tak terkendali. Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar hari ini. Peduli sekali akan hal itu, perhitunganku tidak akan mengembalikan Galih. Sekuat tenaga aku coba menahan agar tangisku berhenti dan pelan-pelan menghapus air mata yang hari ini menjadi penghias di wajahku. Ternyata bocah laki-laki ini masih setia memandangiku dengan sudut mata yang masih basah.

“Kak Riri jangan nangis lagi. Mas Galih bilang, kakak itu perempuan tegar kok. Ya kan?”

Aku hanya tersenyum kecil sambil mengelus kepala bocah ini.

“Oh iya, Mas Aji tadi katanya mau ngomong sama Kak Riri. Aku panggilin ya Mas Aji nya.”

Setelah mendapat anggukan persetujuan dariku, Ekky berlari kecil ke dalam, meninggalkan aku untuk menunggu.

Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki yang lebih tua 3 tahun dariku telah duduk di sampingku. Mas Aji, kakaknya Galih. Kegiatan menghapus air mata dari wajahku sebenarnya tidak wajib, tapi entah kenapa secara tidak sadar aku melakukannya.

“Ikhlasin Galih ya, Ri”

Lagi-lagi aku harus menahan agar air mataku tidak tumpah. Aku mengangguk, berusaha mengiyakan.

“Galih kecelakaan pas pulang dari taman. Gue ga tau gimana kronologi kejadiannya. Disitu juga saksi mata ga banyak…” Mas Aji menghela nafas, “yah… Namanya juga tengah malem”

Muncul perasaan lain dalam diriku, penyesalan. Harusnya aku meluangkan waktu untuk bertemu Galih. Harusnya aku abaikan saja dulu pekerjaanku untuk semalam. Terlalu banyak ‘harusnya’ dalam otakku.

“Udah baca dokumen yang di folder tadi?”

Aku mengangguk dan mulai bingung. Raut wajahku pasti sangat menyiratkan kebingungan untuk Mas Aji.

“Sengaja gue suruh Ekky kasih itu ke elo. Gue tau Galih mau ngelamar lo sebelum dia kecelakaan. Dia bilang sama gue kalo akhirnya dia sadar akan artinya seorang Riri di hidupnya.”

Yah. Kali ini aku tidak bisa menahan, setetes dua tetes telah mengalir mulus di pipiku. Mas Aji pun nampaknya belum ingin melanjutkan kata-katanya. Lama-lama air mataku mengalir deras, lagi.

“Ga cuma elo yang kehilangan Galih. Gue, Ekky, bokap, nyokap, orang-orang yang sayang sama Galih. Cuma mau gimana lagi?”

Kali ini Mas Aji menghadapkan wajahnya ke wajahku. Aku berusaha menghentikan tangisku yang hampir sesenggukan.

“Riri itu perempuan tegar, perempuan yang kuat. Galih ga bakal suka kalo Riri terpuruk terus kayak gini. Cukup hari ini aja ya, besok Riri harus bisa balik ke Riri yang biasanya.” Kata-kata Mas Aji cukup menenangkan. Aku tersenyum simpul. Merekam semua perkataan Mas Aji dan bertekad untuk menerapkannya.

Mas Aji tersenyum memandangku lalu mengacak-acak rambutku layaknya seorang kakak kepada adik kesayangannya. Yah, aku memang menganggap Mas Aji seperti kakak sendiri. Senyum yang terukir di wajahku belum sesempurna ketika aku melihat raut wajah Galih yang bahagia akan nilai A untuk hasil skripsinya.

Kegiatan berpamitan kepada sanak keluarga Galih sudah aku lakukan. Kedua kakiku dengan berat meninggalkan bangunan yang menjadi salah satu tempat kenangan untuk aku dan Galih. Kata-kata Mas Aji masih menari-nari sayu di pikiranku,menghasilkan senyuman tanpa makna di wajahku. Mobilku melaju dengan kecepatan sedang menuju taman tempat aku dan Galih biasa menghilangkan penat. Kali ini berbeda, aku sendiri dan sedang dirundung duka. Tapi taman di sore hari ini tetap setia menawarkan kegembiraan kepada siapapun yang mengunjunginya.

Beberapa anjing berkeliaran dibiarkan menyusuri taman oleh pemiliknya yang sedang berolahraga sore, anak-anak kecil berlari-lari riang kesana kemari, remaja-remaja tanggung tertawa lepas, dan aku yang duduk sendiri termenung memperhatikan keriangan taman sore ini. Perasaan jengah menyelimutiku. Mungkin Tuhan mengabulkan pintaku untuk tidak terus-menerus menangisi Galih. Rasa kehilangan belum mau lenyap dari diriku, namun air mataku sudah tidak bisa seenaknya muncul untuk menghiasi wajahku. Setidaknya begini lebih baik. Aku menghela nafas panjang, mencoba membebaskan diriku dari rasa penyesalan akibat penolakan terhadap ajakan Galih semalam sebelum dia kecelakaan. Tidak berhasil. Masih merasa sangat menyesal dan aku tidak akan bisa menghilangkan rasa itu… kecuali aku bertemu Galih lagi dan menyampaikan aku tidak mau kehilangannya untuk yang kedua kali, andai saja.

Aku beranjak dari kursi semen tempatku duduk tadi menuju mobilku, mungkin pulang ke rumah akan menjadikan diriku lebih baik dari ini, mungkin. Tidak usah menunggu tengah malam untuk mendapatkan jalanan yang lengang. Di sekitar taman ini memang selalu sepi, entah kenapa. Jalanan sepi ini membuatku kembali memikirkan Galih. Dia adalah satu-satunya yang aku butuhkan, paling tidak untuk saat ini dan itu tidak bisa aku penuhi. Senyuman sinis menghina diri sendiri terukir jelas di wajahku. Menimbulkan perasaan benci terhadap diri sendiri. Amarah, penyesalan, kesedihan dan kehilangan melebur menjadi satu. Yah, emosiku menjadi tidak stabil. Ingatan-ingatan tentang Galih kembali menyeruak liar dari tempat persembunyiannya. Menari-nari indah, mengambil alih konsentrasiku atas jalanan yang harusnya aku perhatikan. Aku menikmati setiap kenangan yang tersaji dalam bayanganku. Sampai akhirnya klakson memekakkan dari sebuah truk menyadarkanku dan aku tidak sempat menghindar. Semuanya gelap.

Terlanjur Pergi 1
Terlanjur Pergi 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s