Hari ke-1: Delapan

Langit sore masih ingin memamerkan keindahannya. Di sudut cafe, dua orang wanita duduk berhadapan. Cangkir-cangkir di atas meja yang berada di sudut itu, menjadi saksi perbincangan dua orang sahabat ini.

“Jadi? Akhirnya kau dan Raditya putus?” Tanya wanita dengan rokok di tangan kirinya, Agatha.

“Secara status, iya. Tapi… Kau tahulah bagaimana dua orang yang masih saling mencintai, Gat.” Jawab wanita di hadapan Agatha setelah menyeruput cappuccino nya, Fara.

Agatha tampak berpikir, menghisap rokoknya dengan nikmat lalu tersenyum kecil, sungguh manis. Sedangkan Fara, sibuk dengan lamunan-lamunannya.

“Asal kau tidak menyesal atas jalan yang telah kau pilih.” Sekilas, cara pengucapan yang dilakukan Agatha seperti menyepelekan. Fara terlalu mengenal Agatha dan mengerti bagaimana cara Agatha menyemangati para sahabatnya, termasuk dirinya.

“Aku telah belajar banyak darimu untuk tidak menyesali jalan yang dipilih. Bagaimana kau dengan Adrian? Seperti tidak ada halang rintang yang berarti?!” Fara gantian menyelidik Agatha dan dibalasnya dengan tawa oleh Agatha sebelum wanita itu menjawab pertanyaan sahabatnya.

“Aku dan Adrian? Aku selalu menganggap hubungan kami baik. Yah kau tahu, tidak ada yang benar-benar baik di dunia ini, ada kalanya aku berseteru dengan sifat Adrian yang tidak aku sukai, wanita atau pria lain yang mencoba menggeser, atau hal-hal kecil yang bisa menjadi masalah besar…” Agatha menghela nafas setelah menjawab cukup panjang pertanyaan Fara.

“Tapi kau dan Adrian selalu terlihat mesra dan membuat iri setiap pasang mata yang berhasil mengabadikan kemesraan kalian.” Fara mencoba menyangkal jawaban sahabatnya.

“Ingatkah kau dengan angka delapan?” Agatha memperhatikan wajah Fara yang mulai serius.

“Lihatlah angka delapan, dua bulatan berdempetan, seperti dua kepala yang juga berdempetan. Lihatlah goresan untuk membentuk angka delapan, tidak ada garis lurus dan tidak terputus…” Agatha menghela nafas, belum melanjutkan kalimatnya.

“Bisa dimaksudkan cobaan tiada hentinya?” Fara semakin penasaran dengan pemikiran Agatha.

“Tidak tahu sih, menurutku… Ya kurang lebih, pasti ada hal tidak baik dan tidak terputus ketika bernafas masih bisa kita lakukan, bukan hanya dalam percintaan, semua hal. Lekukan di angka delapan bisa berupa hal buruk namun menghasilkan keindahan, seperti angka delapan, yah… Pemikiranku saja sih. Sedangkan angka delapan yang tidak terputus itu, untuk semua keberuntungan yang selalu ada bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, tak akan terputus.” Agatha mengakhiri penjelasannya dengan senyum.

“Jadi kau selalu menggunakan angka delapan dalam hidupmu?” Tanya Fara masih penasaran.

“Begitulah. Apa kau pikir aku hanya menerapkan teori-teori untuk urusan cinta?”

“Aku bahkan tidak pernah tahu pandanganmu soal hal lain selain cinta. Kita lebih sering membahas masalah percintaan kita dan pasangan, bukan?”

“Tapi bukan berarti aku tidak peduli dengan hal lain selain cinta, ya kan? Masih banyak hal indah untuk dikagumi selain cinta, masih banyak hal penting untuk dipikirkan selain cinta. Bukan berarti aku menyepelekan cinta, aku mengagumi dan memikirkannya, tapi porsinya mungkin sudah semakin berkurang”

“Mungkin aku juga akan mulai lebih mempergunakan angka delapan dalam kehidupanku.” Fara tersenyum kepada Agatha, lalu mereka sama-sama menikmati isi dari cangkir masing-masing sambil memandangi langit yang semakin gelap menjatuhkan butir-butir air ke permukaan bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s