Hari ke-2: Regret

Malam ini, izinkan aku bercerita sedikit tentang diriku, sedikit saja, semoga kalian tidak bosan menelusuri setiap kata yang ada, semoga.

Sore di sebuah taman, seorang pria duduk dengan jantung yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Kegugupan bersamanya, telapak tangannya menjadi dingin. Setelah dua tahun ia memendam sang rasa kepada seorang wanita yang selalu memenuhi hati dan otaknya, baru sore inilah keberanian bersamanya, untuk mengungkapkan dan meminta kepada si wanita menjadi kekasihnya.

Seorang wanita menghampiri si pria tadi dengan senyuman. Pesona dari sang wanita tak akan pernah pudar untuk sang pria. Aku telah menunggu mereka sejak keberanian datang kepada si pria, apakah aku akan menggantikannya untuk mendampingi si pria? Sabar dulu, sebentar lagi jawaban atas pertanyaanku tadi akan tiba.

Wanita itu duduk di sebelah pria yang telapak tangannya semakin dingin. Obrolan ringan telah hadir di antara mereka. Tinggal menunggu waktu yang pas sampai akhirnya keberanian benar-benar muncul.

10 menit…
15 menit…
20 menit…

Di menit ke tiga puluh, suasana di antara mereka menjadi hening, berbeda dengan riuhnya taman sore ini.

“Maafkan aku baru menyatakan ini sekarang…” Ucap sang pria sambil memandangi wajah wanita di sampingnya.

“Untuk apa kata maaf itu?” Si wanita tampak datar, dengan wajah yang masih menatap lurus ke depan. Pria itu hanya diam, tak tahu harus menjawab apa.

“Kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku padamu…” Ucap wanita itu, masih dengan kedatarannya.

“Memang. Dan aku terlalu pengecut untuk mencari tahu hal itu.” Pria itu tertunduk. Tenang, belum saatnya aku datang.

“Kau bukan pengecut. Kau hanya terlalu tidak peduli…” Suara wanitanya seperti mengekspresikan kejengkelan, “Satu tahun aku menantikan kau mengungkapkan rasamu, sudah ku pancing, kau masih membatu.” Kali ini suaranya bergetar, seperti akan menangis, mungkin kesedihan singgah di wanita itu.

“Dan sekarang, setelah dua tahun, aku mengungkapkannya. Dengan sangat jelas, di hadapanmu.” Diraihnya kedua tangan si wanita oleh sang pria, kemudian digenggamnya.

“Minggu depan, aku akan menikah.” Suara lirih si wanita seperti menjadi anak panah yang tepat tertancap di hati sang pria.

Sakit datang terlebih dahulu. Menemani pria sejak kalimat lirih dari si wanita selesai terucap. Kejernihan pikiran sang pria tidak lagi bertahan, keberaniannya diusir begitu saja oleh rasa sakit, keyakinannya? Runtuh seketika, tentu saja. Tunggu! Pria ini tidak bersama keyakinan aku rasa.

“Kalau saja kau tepat waktu mengungkapkannya… Maafkan aku.” Genggaman tangan pria yang mencintainya itu dilepaskan, tanpa perlawanan oleh sang pria. Wanita itu kemudian meninggalkan pria itu begitu saja.

Sore yang indah di taman yang ceria dan sang pria yang ditemani rasa sakit, sedetik kemudian aku menghampiri pria itu. Yah, akulah penyesalan. Pria yang malang.

Advertisements

One thought on “Hari ke-2: Regret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s