Hari ke-3: Hai

11 Agustus 2011

Pukul 2 dini hari, artikel yang kukerjakan hampir rampung. Tubuhku lelah, namun rasa kantuk sama sekali tidak bisa aku rasakan. Bisa kau bayangkan? Lebih baik jangan, itu menjengkelkan. Aku memutuskan untuk berbaring di ranjangku, dengan segala khayalanku dan teringat akan lucid dream. Yah… Belakangan ini memang aku dan seorang temanku gemar memperbincangkan tentang lucid dream dan astral projection, namun aku belum menemukan informasi yang memuaskan mengenai dua hal itu.

Mataku terjaga, tidak sekuat tadi, tapi cukup jelas untuk melihat sekeliling. Kamarku seperti dirundung duka, suasananya begitu kelam. Aku berganti posisi dari berbaring menjadi duduk, bergeser ke pinggir ranjang, membelakangi bantal yang menjadi alas kepalaku saat tidur tadi. Beberapa detik kemudian, aku menoleh ke belakang dan terkejut. Diriku sedang tertidur pulas. Saat itu juga aku berfikir tentang berakhirnya kehidupanku atau hanya bermimpi? Belum sempat aku menemukan jawabannya, sayup-sayup telingaku mendengar suara nafas. Asalnya dari lemari pakaianku yang terletak tidak jauh dari ranjang. Semakin lama semakin terdengar jelas, nafasnya berat seperti nafas-nafas makhluk yang wujudnya sangat besar. Tanpa mempertimbangkan banyak hal, aku langsung kembali ke posisi tidurku semula. Iya, aku panik.

Aku terjaga lagi, kali ini dengan nafas yang tersengal-sengal, jadi kesal. Apa yang baru saja aku alami? Terlalu panik dan terlalu penakut, jadi aku putuskan tidak mencari tahu.

Mataku terbuka perlahan-lahan. Oh Tuhan, entah sudah berapa kali aku terjaga malam ini. Aku menahan agar mataku tidak semakin lebar terbuka. Masih ada rasa takut dan panik yang menjalar di sekujur tubuhku. Sialnya lagi, rasa penasaranku pun pelan tapi pasti ikut merasuki tubuhku. Ingin sumpah serapah. Pelan-pelan, mataku terbuka seluruhnya. Suasana kamarku masih kelam, dengan sedikit kabut-kabut di langit-langit kamarku. Hey! Kenapa kelam begini? Gelap, aku tidak pernah mematikan lampu ketika tidur. Tidak lama setelah memikirkan kekelaman kamarku, aku menyadari ada yang duduk di pinggir ranjangku, membelakangiku. Perlahan, dia menoleh ke arahku. Seorang bocah laki-laki, dengan muka pucat pasi, rambut bermodel mangkok dan kantung mata yang bisa dibilang cukup besar untuk ukuran bocah sepertinya. Mataku dan matanya bertemu. Sial! Aku ketakutan, lagi.

Seperti dikejutkan, aku membuka mataku dengan nafas yang tersengal-sengal lagi dan sedikit keringat meluncur di sekitar pelipisku. Brengsek! Tadi itu apa lagi sih?! Aku melihat jam dindingku, pukul 4 dini hari. Kesal akhirnya, aku memutuskan untuk tidak tidur sampai sinar matahari kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s