Hari ke-6: Bad Boy, Play Bad

– Ricky –

CTAR!

Telapak tangan itu mendarat mulus di pipiku. Bukan membelai lembut seperti biasa, namun menamparku. Perih. Mungkin sama seperti hatinya yang tahu aku menjalin hubungan dengan perempuan lain. Kedua tangannya sekarang menutupi wajahnya. Tubuhnya agak terguncang-guncang, menangis sesenggukan. Aku mencoba merangkulnya, membelai lembut rambutnya. Aku masih mencintainya.

“Marsha… Kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Yakinlah…” Kataku lirih sambil melepaskan rangkulanku.

“Jauh lebih baik, aku rasa.” Balasnya sambil menghapus air mata di wajahnya. Dia tampak lebih cantik sekarang. Seperti Marsha yang ku kenal, dia tegar, bahkan untuk urusan percintaan sekalipun. Bahkan sekarang dia sudah tersenyum lagi, aku tidak salah langkah.

“Kita masih bisa berteman.” Kataku lagi. Matanya kini menatap mataku. Pandangannya kosong, seperti bukan Marsha, atau hanya perasaanku saja.

“Tentu saja. Bahkan kita masih bisa berdua seperti ini. Kau masih mencintaiku, bukan?” Tanyanya mulai genit. Yah, Marsha memang terkadang bersikap seperti itu, namun jarang sekali. Biar bagaimana pun aku tetap senang dan bersyukur dia tak terlalu mempermasalahkan kesalahanku.

“Tentu saja…” Aku menjawabnya dengan senyuman bahagia. Itu berarti aku bisa tetap bisa menjalankan hubunganku dengan Hanna dan tetap bermesraan seperti ini dengan Marsha, dua wanita yang aku cinta. Aku merangkulnya mesra dari belakang.

“Kasihan Hanna jika melihat pangeran kesayangannya bermesraan seperti ini dengan mantan pacarnya.” Kalimatnya… Marsha mengucapkan itu sambil sedikit tertawa.

“Sudahlah, tidak usah membicarakan hal itu. Aku tetap mencintaimu.” Balasku, masih merangkulnya mesra, mencoba untuk tidak terbawa emosi karena kalimat sebelumnya, “Dan saat ini, kita resmi
putus?” Kini aku gantian bertanya kepadanya.

“Sebenarnya aku tidak mau memutuskan hubungan denganmu..” Ekspresi wajahnya menyiratkan kesedihan. Oh Marsha, jangan buat aku kembali bimbang, kumohon.

“Tapi selama aku masih bisa bersamamu seperti
ini, tidak masalah bagiku.” Katanya lagi.

Marsha membalikkan badannya menghadapku, lalu mengecup bibirku. Yah, aku memang tidak salah mengambil keputusan. Membiarkan Marsha tahu malah membuat aku mendapatkan keduanya tanpa perasaan was-was lagi. Tinggal bagaimana caraku mempertahankan dan mengamankan ini semua dari Hanna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s