Hari ke-7: Something Hidden

– Ricky –

Ini adalah sabtu pertamaku tanpa Marsha dan dengan Hanna, tentunya. Maksudku, nanti malam. Setelah kejadian selasa lalu, aku meminimalisir bertemu dengan Marsha, karena tidak tahu harus memberikan alasan apa ke Hanna.

Pukul 8 malam aku telah tiba di rumah Hanna. Tidak akan beranjak kemana-mana, karena aku tidak tahu mau kemana sedangkan Hanna juga sedang tidak ingin keluar rumah. Perempuan yang sekarang menjadi kekasihku ini duduk di sebelahku, bersender manja pada lenganku. Disinilah aku mulai membandingkan dua wanita yang aku cintai. Berbeda dengan Marsha, Hanna memiliki kadar manja yang berlebihan. Untuk urusan fisik, Marsha juaranya, se-natural apapun make up, bahkan tanpa make up, kharismanya sudah terpancar. Oh Tuhan, apa aku ini? Di sampingku duduk kekasih baruku tapi aku lebih banyak memikirkan perempuan lain.

“Kemarin kamu udah ngomong sama Marsha? Cerita dong…” Suara Hanna membawaku ke alam sadar, dengan suara yang diimut-imutkan, entah kenapa aku sama sekali tidak merasa gemas seperti ketika Marsha mengimut-imutkan suaranya, aku malah hanya tersenyum dan mulai bercerita.

“… Yah akhirnya dia nangis. Aku bisa apa? Yang penting aku udah cerita semua dan udah terlanjur ketahuan juga.” Kataku mengakhiri cerita, tentu saja ada bagian-bagian yang aku sembunyikan dari Hanna.

“Pasti dia sakit hati banget tuh kamu akhirnya milih aku.” Wajah seriusnya berubah menjadi senyum, senyum kemenangan mungkin, namun aku melihat sebuah kelicikan di wajahnya. Ah, perasaanku saja, atau memang wajahnya seperti itu? Entahlah.

“Kalo aku bisa ngomong ke dia, aku bakalan bilang, ‘Makanya punya pacar dijagain’… Lagian jadi cewek tolol banget sih.” Katanya lagi sambil tertawa kecil, bahagia sekali nampaknya. Tapi tunggu, dia bilang Marsha tolol? Minus satu untuk Hanna.

“Kok tolol? Tolol kenapa? Jangan gitulah, kamu kan ga kenal Marsha gimana.” Kataku mencoba senetral mungkin walaupun tidak terima ketika Hanna mengucap kata tolol untuk Marsha.

“Mantannya ngebelain ceritanya…” Bukan menjawab pertanyaanku, Hanna malah fokus ke pikirannya sendiri. Ada kejengkelan dalam suaranya tadi. Sekali lagi, aku mencoba netral.

“Udahlah. Yang penting kan aku udah sama kamu sekarang. Udah jadi pacarmu kayak yang kita mau.” Jika kalimatku ini tidak mempan, aku bersumpah tidak akan menahan emosiku lagi.

Hanna menolehkan wajahnya menatap wajahku, senyumnya mengembang. Oke, aku harus mulai terbiasa dengan senyum dengan gurat kelicikan pada wajah kekasihku ini. Jiwaku semakin terbawa untuk melihat senyum manis tulus kepunyaan Marsha, namun aku kembali tersadar oleh kecupan yang mendarat di pipi kiriku. Kecupan dari Hanna, siapa lagi? Dia lalu memelukku erat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s