Hari ke-8: The Winner

– Hanna –

Akhirnya laki-laki yang selama ini mati-matian aku perjuangkan akan mengunjungiku. Status kami bukan lagi teman dekat, melainkan sudah menjadi pacar. Teras rumah selalu menjadi tempat kesukaanku untuk menunggu. Tak lama kemudian, dia datang, Ricky.

Dia mengecup keningku sebelum masuk ke rumah dan bertemu orang tuaku. Awal yang cukup manis, apakah dia juga melakukan ini kepada Marsha dan pacar-pacar sebelumnya? Ah sial!

Posisi duduk kami sudah bersamping-sampingan. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, ini salah satu yang aku sukai. Wangi parfum menjalar tercium olehku, aku menikmatinya. Beberapa saat kemudian aku tersadar, ingin menanyakan sesuatu kepadanya.

“Kemarin kamu udah ngomong sama Marsha? Cerita dong…” Aku sedikit merajuk. Ricky hanya tersenyum melihatku seperti itu.

“… Yah akhirnya dia nangis. Aku bisa apa? Yang penting aku udah cerita semua dan udah terlanjur ketahuan juga.” Aku antusias menyimak apa yang diceritakan Ricky, namun ternyata Ricky kurang ekspresif dalam menceritakan suatu hal.

“Pasti dia sakit hati banget tuh kamu akhirnya milih aku.” Wajah antusiasku berubah menjadi senyuman, senyuman bahagia, apa lagi? Bahagia karena orang yang aku cintai sekarang resmi menjadi kekasihku.

“Kalo aku bisa ngomong ke dia, aku bakalan bilang, ‘Makanya punya pacar dijagain’… Lagian jadi cewek tolol banget sih.” Kataku lagi. Aku menjaga porsi kata-kataku agar tidak terlalu kasar didengar Ricky, aku tidak mau mempunyai nilai minus di matanya, walaupun aku ingin sekali mencaci Marsha, entah kenapa.

“Kok tolol? Tolol kenapa? Jangan gitulah, kamu kan ga kenal Marsha gimana.” Dahinya sedikit mengernyit saat kalimat itu terucap dari bibir Ricky. Ah mungkinkah dia masih membela Marsha? Tidak mungkin sih, Ricky sangat mencintaiku sampai-sampai rela mengusir Marsha dari kehidupannya.

“Mantannya ngebelain ceritanya…” Aku menggoda Ricky dengan kalimat itu. Ingin tahu juga bagaimana responnya.

“Udahlah. Yang penting kan aku udah sama kamu sekarang. Udah jadi pacarmu kayak yang kita mau.” Balasnya. Aku mendengar kejengahan ketika dia mengucap kalimat itu. Ah dia tidak mau lagi aku membahas Marsha, ceritanya dengan Marsha sudah selesai dan sekarang hanya ada aku.

Aku tersenyum kepadanya, menyenangkan sekali menjadi kekasih dari laki-laki yang mengerti akan perasaanku. Aku mengecup pipinya, lalu merangkulnya erat. Aku mencintainya. Tidak ada yang bisa merebut Ricky dariku, apalagi masa lalunya, Marsha.

Advertisements

7 thoughts on “Hari ke-8: The Winner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s