Hari ke-12: Traffic Jam

Bunyi klakson dari kendaraan yang berada di ruas jalan di Jakarta menghiasi sore yang selalu indah untukku. Akses untuk keluar dari Jakarta pada jam pulang kantor selalu dipenuhi dengan emosi, kemacetan dan ceritanya masing-masing, atau hanya perasaanku saja? Entahlah. Sore ini pun aku membawa cerita, dengan seorang gadis, aku menyukainya.

“Padahal diklakson juga ga bikin jalanan ini tambah lebar buat nampung kendaraannya. Berisik tau.” Ujar Nayla, gadis di sebelahku. Ekspresi wajahnya jadi menggemaskan, dengan pipinya yang sedikit menggembung. Aku tertawa pelan, tapi masih bisa didengarnya.

“Adriaaan!” Nayla seperti tersinggung akan tawaku, wajahnya menjadi tambah menggemaskan dengan ekspresi kesal seperti itu.

“Aku ga ngetawain kamu kok.” Yah, aku memang tertawa, tapi bukan menertawakan Nayla. Hanya saja, kata-katanya itu terdengar lucu buatku. Nayla memalingkan lagi wajahnya, menghadap ke jendela di sebelah kirinya.

“Eh kamu kepikiran ga?” Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dan dia kembali menatap wajahku.

“Engga.” Jawabku cepat, membalas tatapannya. Ada sedikit keterkejutan terpancar dari matanya dan pipinya sedikit bersemu merah.

“IH!” Tangannya menggelitik bagian pinggangku. Aku sebisa mungkin menghindar dari tangannya yang siap menyerangku lagi.

“Geli ah!” Kataku agak kesal. Tidak, aku tidak benar-benar kesal. “Tadi apa emang?” Tanyaku memperjelas dan penasaran juga soal apa yang ingin dia bahas. Nayla biasanya akan membahas keanehan yang tidak dipikirkan manusia pada umumnya dan aku menyukai itu.

“Orang galau nasibnya sama kayak mobil-mobil yang kena macetnya Jakarta tau.” Jawabnya, masih memandangku, namun kali ini tangannya tidak sedang siap-siap menyerangku.

“Sama kayak mobil kita dong.” Balasku cepat dan asal.

“KITAAA? Lu aja sana sama patung pancoran noh. Nangkring di atas. Kehujanan, kedinginan, galau ga ada yang nemenin…” Ujar Nayla dan dia siap-siap ingin melanjutkan kata-katanya.
Sebelum dia sempat berucap, aku bergerak cepat, mengecup bibirnya cepat, “Berisik.” Kataku lalu kembali ke posisiku sebelumnya. Aku sengaja mengalihkan pandanganku mobil-mobil yang belum juga bergerak di depanku. Aku bisa melihat dari sudut mata kiriku, Nayla terdiam.

Cukup lama Nayla bertahan dalam diamnya, sampai akhirnya aku merasakan kegelian di pinggangku, tangan jahilnya beraksi lagi.

“Apaan sih? Geli ah..” Kataku sambil berusaha menghindar, padahal aku tahu tidak akan berhasil. Semakin aku menghindar, semakin Nayla gencar. Dalam usahaku meminimalisir kegelian, aku masih bisa melihat Nayla siap-siap meluncurkan kata-kata dan benar saja.

“Ngapain cium-cium heh?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s