Hari ke-14: Bullet For My Heart

Banyak yang bilang..
Kepercayaan seperti cermin, jika pecah, tidak bisa kembali lagi
Kepercayaan juga seperti kertas, jika telah diremas, tidak bisa rapi lagi

Harusnya aku ingat, setiap orang memiliki zona pribadi mereka yang bahkan hanya seorang kekasih tidak berhak untuk tahu. Setelah kalimatku yang seakan menandakan perang dimulai, aku membakar rokok pertamaku, mencoba mengontrol emosiku dalam diam, menahan dorongan air bah di kantung mataku agar tidak keluar. Aku mengabaikan ucapan maaf berkali-kali dari laki-laki yang aku cintai, Ajuno. Akhirnya aku bersuara setelah beberapa waktu bertahan dalam diam, mencoba untuk menyelesaikan semuanya, masalah yang ada maksudku. Malam itu banjir dengan kata maaf dan janji-janji dari Ajuno. Apa pengaruhnya? Tidak ada, tidak membuat emosiku membaik, tidak membuat aku merasa tidak dicurangi, janji-janji itu tidak mempunyai kekuatan magis sedikit pun untukku. Aku akan membaik dengan sendirinya, tidak perlu janji-janji yang jika nantinya tidak akan ditepati.

“Aku harus gimana biar kamu ga bete?” Berkali-kali pertanyaan itu terlontar dari bibir Ajuno, berkali-kali pula aku menggeleng dan memberi jawaban, “Ga tau.”

“Kalo nanti kejadian kayak gini lagi, gimana?” Suaraku masih terdengar dingin. Tidak, aku tidak sedang berakting.

“Ga akan kejadian kayak gini lagi.” Jawab Ajuno, seperti meyakinkanku. Berhasil membuatku yakin? Tidak sama sekali.

“Kalo sampe kejadian kayak gini lagi, gimana?” Aku mengulangi pertanyaanku, dengan nada agak tinggi.

“Ga akan ada lagi. Aku ga mau. Masih percaya sama aku, kan?” Dijawab, dipertanyakan dan mata kami masih bertatapan.

“Engga.” Jawabku sambil terus memperhatikan bola matanya yang sedikit berubah ketika satu kata itu menjadi jawabanku. Entah berubah atau hanya perasaanku saja.

“Ga kenapa kalo kamu ga percaya. Aku ga bakal kayak gitu lagi.” Katanya setelah lama terdiam, lalu merangkulku.

‘Do it then’ hatiku berucap lirih.

Kepercayaan juga bisa seperti kaca yang tertancap peluru, tidak hancur berkeping-keping, hanya retak, namun pelurunya tetap menancap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s