On Fire

– HANNA –

Sudah tiga bulan lebih aku menjalin hubungan dengan Ricky, laki-laki yang sebelumnya pernah aku ceritakan. Selama tiga bulan ini pula Ricky memperlakukanku layaknya putri raja. Pertengkaran-pertengkaran kecil berdatangan, biasa dalam sebuah hubungan, yang penting kami saling cinta. Ricky merupakan sosok kekasih yang sempurna bagiku.

Seperti biasa, sebelum jam 10 aku sudah di kampus. Oh iya, sudah beberapa hari ini aku memantau kicauan twitter Marsha, sepertinya perempuan itu semakin galau karena melihat Ricky bersenang-senang denganku. Kasihan. Hari ini aku belum melihat update terbaru dari Marsha.

Dear Ricky, kamu sayang sama aku? Tapi dia sayang kamu, gmn dong?”

Dear Ricky, kalo masih sayang, usaha. Jangan ngomong doang. Aku jg msh sayang kok :’)

“SAKIT!!” Aku membathin melihat dua kicauan Marsha di Twitter membuat aku berpikir dia masih berhubungan sangat baik dengan Ricky. Apa mungkin ini Ricky yang sama? Atau hanya kebetulan bernama serupa? Ah! Pertanyaan di otakku terlalu banyak dan tidak bisa aku tanyakan. Mau bertanya pada siapa aku sekarang? Atas dasar penasaran dan ingin memuaskan hasratku untuk mengetahui apa yang selama ini tidak aku ketahui, aku mencari-cari kesalahan Marsha, menyakiti hatiku sendiri.

Aku menemukan sebuah foto yang diunggah Marsha, foto mesra bersama Ricky. Tubuhku merasakan panas yang menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Aku cemburu. Tanpa memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di otakku, jari-jariku langsung menciptakan kicauan berupa kata-kata makian yang aku tujukan langsung ke akun Marsha, lewat akunku tentu saja. Emosiku sedang menguasai otak dan akal sehatku, tiba-tiba handphoneku berdering, Ricky menelfonku,

“Kamu ngapain sih maki-maki orang di Twitter? Hah?” Dari suaranya, bisa dipastikan Ricky kesal.

“Apaan sih?! Kok jadi kamu yang marah-marah?! Kenapa? Ngebelain Marsha, hah?!” Tidak mau kalah, nada suaraku pun aku tinggikan.

Ricky terdiam cukup lama, aku pun ikut terdiam. Bukan karena aku sudah tenang, aku hanya tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarku.

“Ga usah telfon lagi. Mau pulang gue.” Kataku ketus, menggertak Ricky sesuka emosiku lalu aku menonaktifkan handphoneku. Beranjak pulang, padahal masih ada satu mata kuliah yang harusnya aku ikuti siang ini. Aku kalah oleh amarah, biarlah.

Ragaku telah tiba di sebuah ruangan, kamarku, dimana lagi aku bisa mengeluarkan seluruh emosiku selain disini?! Masih betah aku menonaktifkan handphoneku. Kupeluk boneka beruang pemberian Ricky. Aku meraih salah satu figura yang di dalamnya terpampang foto diriku dan Ricky yang sedang merangkulku mesra, hatiku seperti tersayat. Bagaimana jika Ricky dan Marsha memang masih menjalin hubungan dekat di belakangku? Pertanyaan-pertanyaan dalam otakku membuat pipiku banjir akan air mata dan tanpa sadar membanting figura yang tadi kupegang dengan sekuat tenaga. Tangisku semakin tidak terkendali. Dalam kekacauan emosiku, aku merebahkan tubuh di ranjang. Sibuk dengan bayangan-bayangan menyakitkan sampai akhirnya aku lelah dan memejamkan mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s