Have No Power

– RICKY –

Tubuhku terhentak, terjaga karena mimpi yang kudapat barusan, Marsha telah menemukan pelabuhan hatinya. Jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi. Aku meraih handphoneku untuk menghubungi Marsha.

Tut…
Tut…
Tut…
Tut…

Tidak biasanya Marsha lama mengangkat telepon. Jam segini biasanya dia belum sibuk.

Tut…

“Halooo…” Sapa orang di seberang, suara lelaki, aku sepertinya familiar dengan suaranya.

“Eh halo Marsha ada?”

“Bentar bentar..”

Kemudian aku mendengar sayup-sayup penolakan Marsha untuk berbicara karena kedua tangannya sedang mengerjakan sesuatu dan suara laki-laki itu merayu agar Marsha mau berbicara, terdengar intim sekali.

“Heeey..”

“Hey lagi sibuk ya?” Kalimat itu keluar dari bibirku, agak kaku.

“Lagi nyuci piring hahaha kenapa?” Suaranya terdengar riang sekali. Ah aku merindukannya, sebagai kekasihku tentu saja.

“Ehm.. Engga sih. Tadi siapa ada suara cowok?” Sebenarnya aku tidak pantas menanyakan ini ke Marsha tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.

“Oh… Shandy itu.”

“Ngapain Shandy pagi-pagi udah di rumahmu?” Cemburuku tidak teratasi, seharusnya tidak boleh seperti ini.

“Udah beberapa hari ini dia numpang sarapan di rumah, sekalian berangkat bareng ke kampus. Mayan ditebengin.” Jawabnya, terdengar asal, tapi entah kenapa aku menjadi lega mendengarnya.

“Wooo manfaatin anak orang.” Kataku mencoba mencairkan suasana dan menutupi perasaanku yang tidak karuan.

“Bukan manfaatin, tapi perjuangin.” Marsha terdengar agak ketus, “Kenapa nelfon?” Sambungnya lagi.

“Tadinya mau ngobrol, tapi kamu sibuk kayaknya. Nanti aku telfon lagi deh.”

“Oke. Byeee.” Lalu sambungan terputus.

Obrolan singkat dengan Marsha tadi membuatku merasa mimpiku akan menjadi nyata. Marsha seperti menjaga jarak denganku dari cara berbicaranya, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Tidak ingin dibuat pusing oleh keadaan, aku meninggalkan ponselku lalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.

 

Isak tangis terdengar sayup-sayup, asalnya dari kamarku. Siapa yang pagi-pagi sudah menangis? Di kamarku pula. Perasaan hanya ada aku, adikku dan seorang pembantu. Tidak mungkin adikku menangis di kamarku, dia tidak pernah seperti itu kan.

Mau tidak mau aku menutupi rasa terkejutku setelah melihat Hanna telah duduk di pinggir ranjangku sambil menutup mukanya. Drama apalagi ini? Kemarin dia yang marah-marah, sekarang menangis tersendu, sepertinya Hanna juga tidak sedang datang bulan.

“Hey.. Hey.. Kenapa?” Aku duduk di sebelahnya, meraih pundaknya dan menyandarkannya di dadaku. Bukannya menjawab, dia malah semakin larut dalam tangisnya. Lumayan lama dia bersembunyi di dadaku, membuat bajuku basah, sampai akhirnya tamparan dari tangannya mendarat di pipiku.

“Kamu masih deket sama Marsha kan?” Bisa kurasakan emosinya memuncak ketika menanyakan hal itu, aku coba meraihnya untuk memeluknya lagi, namun penolakan yang aku dapat. Hanna melontarkan makian serta kata-kata yang benar-benar dikendalikan oleh emosinya yang tidak beres itu. Siapa juga yang bisa menahan kalau orang yang ia cintai belok ke wanita atau pria lain, aku bisa memaklumi dan aku memang salah.

Tidak ada perlawanan dariku, sama sekali. Sadar diri betul aku akan kesalahanku dan aku memang tidak ingin menambah dosaku untuk berjanji tapi hatiku terpaksa. Ujungnya, Hanna memutuskanku dan menamparku sekali lagi lalu pergi tanpa memberiku kesempatan untuk mengucap maaf dan terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s