(s)WE(et)IRD

Saat itu sudah gelap, bulan pun tidak seterang biasanya, sepertinya. Saya dan laki-laki di samping saya hanya duduk, tanpa bicara. Kebingungan cukup menemani saya, tidak mau didatangi kesal karena respon yang sedikit akan apa yang saya bicarakan, saya memilih untuk diam. Laki-laki di samping saya masih terdiam juga, masih ditemani dengan kesal dan cemburu, karena tingkah laku saya, sih.

Saya mengajak pulang, tapi laki-laki yang hampir 7 bulan bersama saya ini menahan. Kami duduk lagi, diam lagi, asap-asap bermunculan lagi. Akhirnya, laki-laki kesayangan saya ini bicara. Bicara tentang kekesalan dan kecemburuannya. Dalam hati saya tersenyum masih diberikan kekasih yang bisa cemburu.

Menjelang beranjak dari tempat itu, kegemasan mulai muncul dari kekasih saya. Pipi saya sasarannya. Dicubitnya pelan, saya masih masang pipi saya kalau-kalau dia masih gemas dan mau mencubit keras-keras pipi saya. Berkali-kali kekasih saya mengambil ancang-ancang untuk mencubit pipi saya sekuat tenaga, yang malah berujung rangkulan dan kecupan di kening saya. Lalu keluarlah kalimat,

“Aku gemes sama kamu. Tapi ga mau cubit kenceng-kenceng. Kasian kamunya. Aku sayang sama kamu soalnya”

Jakarta, 24 Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s