Pukul Dua

Pukul dua dini hari, aku terjaga.
Otakku merangkai bayanganmu yang terlelap tidak tenang di balik selimut tipis hingga utuh.
Menjadi nyata? Tidak, hanya bayangan, tidak bisa kurengkuh. Kupejamkan mataku dan bayanganmu kembali muncul. Hati kecilku mengatakan, “Aku menemanimu, darisini”. Semoga kau merasakannya, konyol memang, tapi kau terlihat lebih tenang saat tau aku disampingmu, mengecupmu atau membelai halus pipimu ketika kau mengerang kesakitan. Sebelum aku beranjak meninggalkan rumahmu, kau masih tertidur, resah dan masih merengek agar aku tidak pulang. Dasar bocah, sekarang aku ingat harus meledekmu apa, “Nikahi aku kalau kau mau terus kutemani sepanjang hari.” -kau tahu untuk saat ini aku tidak pernah serius membahas pernikahan. Tapi kalau kau berniat menikahiku, aku tidak menolak-
Kau meminta kecupan sebelum aku pergi. Aku mengecupmu, di depan mama dan adik kesayanganmu dan dia tertawa melihatnya. Cepat sehat, kesayangan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s