Friend Will Be Friend

Sinar mentari mulai meredup tergantikan awan kelabu yang siap menurunkan hujan. Sore yang mendung di bawah pohon rindang halaman kampus, menyerupai hati yang juga sedang tak secerah siang tadi. Seorang laki-laki masih duduk dalam diam disampingku. Ihsan, dengan sabarnya menunggu kata-kata yang akan meluncur dari bibirku.

Kepalaku masih juga tertunduk. Ternyata posisi ini semakin memudahkan air mata untuk keluar dari penampungannya. Pipi kananku basah. Bukan karena hujan yang mulai turun, tapi air mataku tidak terbendung. Ihsan menyadari tangisan diamku ini, tapi dia belum atau mungkin tidak akan bertindak apa-apa, kecuali memperhatikan wajahku yang hampir dipenuhi air mata. Aku mulai menghapus air mata yang sudah terlanjur keluar dan menahan agar tidak semakin banyak air mata yang terbuang. Ihsan masih terus memperhatikan aku sampai akhirnya aku menghadapkan wajahku ke wajahnya. Ihsan mengembangkan senyuman yang sebelumnya belum pernah aku lihat selama satu setengah tahun aku mengenalnya,
“Udah puas belum nangisnya?”

Aku tertawa kecil ketika Ihsan menanyakan tentang tangisku ini, seperti diledek.

“Kok malah ketawa? Aneh loh manusia ini.”

Ekspresi wajahnya dari senyum manis hampir menjadi dongkol. Yah, itu ekspresi yang biasa aku lihat pada wajah Ihsan ketika kami sedang larut dalam canda.

“Ya engga, kayak diledek aja nanyanya begitu.” Jawabku masih sambil tersenyum.

“Tuuuhhhhh!!!”

Ekspresi wajah Ihsan berhasil berubah menjadi ekspresi wajah dongkol dan aku berhasil tertawa, tidak selepas biasanya, tapi setidaknya Ihsan berhasil menggantikan tangisku dengan tawa. Ihsan bangkit dari duduknya, menoleh ke arahku. Tanpa mengatakan sepatah katapun, dia menggenggam tanganku lalu menganggukan kepalanya. Aku juga tidak paham benar apa maksud dari anggukan kepalanya itu, tapi aku ikut bangkit dan mengikuti langkahnya… menuju parkiran ternyata.

 

Hujan mulai turun deras saat aku sudah duduk manis di dalam kamar kost Ihsan. Kami masih canggung hanya berduaan di ruangan ini, walaupun aku dan Ihsan berteman dengan sangat baik. Kami kembali duduk bersisian, bersandar pada tembok yang ada. Emosi dalam diriku masih belum stabil, naik turun, seperti dipermainkan. Kebisingan yang dihasilkan oleh hujan diluar tidak lantas membunuh kesepian di antara aku dan Ihsan.

“Tau kenapa gua bawa lu kesini?” Nada bertanya Ihsan sangat datar

“Engga.” Jawabku singkat, padat, jelas.

“Hhhhh.. Terus ga mau tau gitu kenapa gua bawa lu kesini? Nanya gitu kek, kenapa gitu…” sontak aku tertawa, kesunyian lenyap tergantikan oleh kedongkolan dalam canda seperti yang biasa aku dan Ihsan lakukan.

“Yaudah ulang deh ulang.” Kataku sedikit merayu.

“Tau ga kenapa gua bawa lu kesini?”

“Engga, kenapa emangnya?”

“Biar lu bisa curhat, terus abis itu nanti minta peluk, terus abis itu nanti kita ciuman, abis itu…”

Belum sempat Ihsan menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tanganku, “YOU WISH, DUDE!!!” Sambil tersenyum licik. Ihsan tergelak, berusaha melepaskan dekapan tanganku yang sebenarnya tidak bertenaga.

“Bercanda sih jawaban yang tadi. Daripada gue dikira ngapa-ngapan anak orang nanti…”

“Nanti dikiranya elu ngehamilin gue..” kataku meneruskan kalimatnya asal.

“Terus keguguran makanya lu nangis…” Ihsan tidak kalah asal melanjutkan kalimatku dan kami terdiam.

“Eh kalo keguguran ngapain nangis ya? Kan kita kaga nikah…” Ekspresi wajah Ihsan berubah jadi bingung.

“Makanya ngomong jangan asal kenapa.” Kataku sambil menyandarkan kepalaku di pundaknya.

“Yaudah cerita! Siapa suruh nyender?!” Nada suara Ihsan terdengar menyebalkan.

Akhirnya Ihsan larut dalam ceritaku soal Fahry, kekasihku yang sudah dua hari hilang entah kemana, seperti menghindar dariku. Entah kenapa, air mata yang sedari tadi sengaja aku simpan untuk dikeluarkan ditempat yang tepat malah mengendap, enggan untuk muncul.
Cerita soal Fahry berakhir dengan senyum kecil dari bibirku, Ihsan juga ikut tersenyum. Respon dan kata-kata penenang dari Ihsan tidak banyak menghiburku, karena Ihsan tampaknya memang tidak ingin menghiburku dengan kata-kata, sepertinya. Handphone Ihsan berdering, ia permisi, berdiri membelakangiku dan berbicara dengan orang yang menghubunginya. Ihsan menatap mataku dengan tenang, dengan sejuknya, entah, aku baru kali ini melihat tatapan mata Ihsan sesejuk ini.

“Nyokap nyuruh balik nih. Sodara sakit, mau pada jenguk. Mau ikut ke rumah apa mau pulang aja?”

“Pulang aja deh…”

“Nanti galau…” Wajah Ihsan ekspresif sekali saat mengucapkan dua kata yang meledek ketidakstabilan emosionalku ini.

“Demen banget kalo gue galau…” Aku menundukkan kepala, berpura-pura sedih, walaupun aku tahu Ihsan tidak serius mengucapkan hal itu.

Tawa lepas langsung menggelegar mengisi kamar yang masih luas itu, mengalahkan suara hujan yang mereda. Aku memukul lengan Ihsan tanpa tenaga seperti biasa dan dibalas dengan rangkulan.
“Pilih ikut jenguk sodara gua ape ke angkringan nih?”

Pertanyaan yang jika aku jawab, pada intinya tidak ada perbedaan. “Mumpung lagi baek nih gua nemenin orang galau.” Lanjutnya sambil terus fokus memperhatikan dirinya di cermin. Tatapan menyelidik dari mataku belum berubah sampai akhirnya Ihsan menarik paksa untuk keluar kamar kost nya tanpa bicara apa-apa lagi.

 

Motor Ihsan berhenti di parkiran angkringan. Setelah melepas helm, kedua tangannya memegang pipiku, “Listen, I just want to see you smile. Forget your Fahry or who the hell he is, I don’t care. He never ever think about you like me.”

“IH!!!” Entah apa yang keluar dari mulutku, aku tidak bisa membantah apa yang dikatakan Ihsan, tapi tidak mau juga untuk membenarkan.

“Apa? Cubit? Nih cubit gua nih!” Responnya sambil berlalu menghampiri meja pojok yang ternyata sudah ada teman-teman kami.

Sebentar kemudian, aku sudah larut dalam canda tawa yang diciptakan Ihsan dan kawan-kawan, teman yang bisa dibilang dekat, yah teman-teman dekat. Di sela-sela tawa kami yang hampir menguasai suasana di angkringan ini, hpku bergetar, ada telfon dari Fahry. Ada perasaan senang tapi tertimbun diantara kemalasan yang sudah diciptakan Ihsan semenjak tiba di angkringan ini. Mataku bertemu dengan mata Ihsan, matanya mengisyaratkan aku untuk mengangkat telfonnya. Aku menyingkir dari keriuhan untuk menjawab telfon Fahry.
 

Pukul 10 malam, aku dan Ihsan telah berpindah lokasi, di teras rumahku. Ihsan seperti mengerti aku belum bisa ditinggal sendiri. Ihsan menghela nafas panjang, sementara aku masih mendongak mencari-cari bulan atau apapun yang bisa aku perhatikan di langit. Lagi-lagi kami terjebak dalam diam. Bukan bosan, aku hanya menikmati kesunyian seperti ini bersama orang yang tepat, sahabatku setidaknya.

Setelah lelah mendongak, aku merogoh tasku. Aku sadar Ihsan memperhatikan gerak-gerik yang aku buat. Lalu tangannya dengan sigap merebut bungkus rokok yang baru saja aku keluarkan.

“Mau dikhotbahin sampe kiamat sama nyokap?” Matanya melotot, yah lagi-lagi… Tidak sekali aku melihat ekspresi seperti ini dari Ihsan. Aku hanya memamerkan kerapihan gigiku padanya. Dimasukan lagi bungkus rokok ke dalam tasku.

Ihsan merubah posisi duduknya hingga kami berhadapan, lalu mengeluarkan sebuah pertanyaan, “Terus lu mau gimana?” Sepertinya ia menyimpan ini semenjak aku selesai menjawab telfon Fahry.

“Putus mungkin. Atau… Ga tau deh. Belum jelas juga, jadi gue belum tau langkah apa yang bakal gue ambil.” Jawabku memandangi wajah Ihsan yang sudah terlihat sangat lelah.

“Iya udahlah kalo mau putus ya putus aja. It’s sooooooo last year, ngekang segala macem. Pffftt…” Ekspresi dan gerakan bibir Ihsan sangat jauh dari kenormalan ketika ber-‘pffftt’ ria.

“Bibir lu santai ajaaaaa…” Aku menahan tawa dengan nada bicara yang sedikit dinaikkan.

“Suka-suka guaaa…” Ihsan tak mau kalah. Aku hanya menatap dengan pandangan jijik, seakan meledek.

 

Sore hari yang mendung namun terasa indah untukku. Aku masih memutar-mutar rokok yang sedari tadi belum aku bakar sambil memperhatikan langit sore. Entah kenapa ada perasaan lega dalam diriku, walau rasanya masih pahit. Senyuman sinis untuk diri sendiri akhirnya sirna ketika handphoneku berdering.

“Dimane ente? Masape? Ngapain aje?” Suara khas yang tanpa ba-bi-bu lagi, Ihsan.

“Angkringan. Sendiri. Ngemis.” Jawabku seadanya, sambil menghembuskan asap dari rokok yang akhirnya aku bakar.

“Don’t go anywhere. I’ll be there in… 5 minutes.”

“What if you’re not here in 5 minutes?”

“I’ll give you all you want”

Tut… Tut… Tut…

Tanpa menunggu responku, Ihsan langsung mematikan telfonnya.

Kurang dari 5 menit, Ihsan sudah duduk di depanku
“Jadi gimana kelanjutannya?” Pertanyaan yang keluar sambil matanya terus mengikat pandang dengan mataku.

Aku menceritakan apa yang terjadi tadi pagi antara aku dan Fahry tanpa ada yang aku tutupi. Aku melihat ekspresi Ihsan yang mulai tak beraturan. Matanya seperti menyiratkan kemarahan, agak memerah.

“Are you okay?” Tanyaku setelah menyelesaikan cerita.

“Harusnya gua yang nanya kayak gitu sama lu. Gue sih ga oke..” Nada bicaranya menyebalkan buatku.

Aku hanya tertawa, seperti tawa melecehkan. Bukan menertawakan Ihsan, bukan. Menertawakan diriku sendiri lebih tepatnya.

“Tapi… Dengan putusnya gue sama Fahry, itu berarti gue bisa bebas lagi kesana kemari..” Kataku sambil masih memandang wajah Ihsan yang belum reda amarahnya, diiringi senyuman.

Ihsan menggeser badannya sampai akhirnya kami duduk bersisiann tanpa jarak lagi.

“.. Gue cuma kesel aja, ngerasa dicurangin. Semuanya gue turutin, semuaaa…”

“Sssshh…” Ihsan memotong kalimat yang sengaja tidak mau atau lebih tepatnya tidak kuat aku ucapkan. Sedetik kemudian kepalaku sudah bersandar di dadanya, Ihsan merangkulku. Rangkulannya tidak terlalu erat, namun cukup membuatku tenang.

Aku menghela nafas, “Kan gue udah nurutin maunya dia, San. Semuanyaaa… Dari gue jauhin temen-temen deket gue, termasuk elu. Semua kenalan gue. Bahkan selama ini waktu gue kesita sama dia doang. Temen-temen gue entah gimana. Tapi taunya dia deket sama cewek…” Nada bicaraku mulai seperti anak TK yang sedang mengadu pada ibunya, “…padahal kalo ada cowok yang sekedar nyapa gue aja, dia ngamuknya kayak supporter bola yang ga nyantai…”

Belaian tangan Ihsan mendarat di kepalaku, perlahan. Airmataku akhirnya mulai mengalir setetes, dua tetes, bertetes-tetes. Bukan sedih, lebih ke… Tidak terima.

“Ne…” Suara Ihsan terdengar agak bergetar saat dia memanggil namaku, aku hanya mendongakkan sedikit kepalaku untuk akhirnya bisa melihat ekspresi tidak terima dari wajah Ihsan.

“Terus ada plan apa?” Tanyanya lagi sambil menghadapkan wajah kami.

“Tidur… Gue capek nangis terus dari 3 hari yang lalu.” Jawabku sambil manyun-manyun dan merapikan barang-barang bawaanku.

“HHHHH~ Banyak pahalanya kek gue yang ngehadepin elu belakangan ini” Katanya gemas lalu bangkit dari duduknya, membayar semua yang ku pesan kemudian menggandeng tangan kananku meninggalkan angkringan.

 ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s