Mas..

Perasaanku tiba-tiba bercampur aduk ketika sepasang mata ini menangkap nama Anne Risyanti di monitorku. Ya! Aku tidak salah melihat kalau yang mengirimiku e-mail adalah perempuan yang selama setahun belakangan ini menyita perhatianku. Harap-harap cemas dengan isi e-mail yang dikirimnya.

Gema, malam ini aku tiba di Jakarta. Besok malam aku ada di tempat biasa kalau kamu mau ketemu.

***

Pandanganku langsung menemukan sosok Anne saat melangkah masuk ke cafe dimana kami menghabiskan waktu untuk pertama kalinya.. Dan seterusnya.

“Hey, udah lama?” Sapaku sambil duduk di hadapannya.

Anne tersenyum riang kepadaku seperti biasa. Senyum yang tiba-tiba saja aku rindukan kemarin malam.

“Lima belas menit dan aku udah menghasilkan ini..” Tangannya memberikanku selembar kertas yang sudah kuduga penuh dengan goresan.

“Ini apa ceritanya?”

“Menurutmu apa, mas?”

Darahku berdesir ketika panggilan itu keluar dari bibirnya.

“Cewek lagi dipeluk cowoknya di ranjang sih.. Tapi kok ini ada kayak buntut gitu si cowoknya?”

“Kamu belum baca potongan ceritaku pasti ya?” Mimik mukanya berubah menjadi agak kecewa, dan aku hanya tersenyum merasa agak bersalah.

“Kamu masih nulis emang? Aku kira udah engga.” Kembali kuperhatikan kertas tadi, untuk menghindarkan diriku dari kekesalan Anne.

“Baca dulu nih!” Katanya menyodorkan ponsel yang sudah menampilkan halaman blognya. Aku menerimanya dan fokus membaca.

“Bagus. Unpredictable. Fantasi kamu udah mulai berani, ya? Aku suka kok. Bikin lanjutannya ga? Atau prequelnya?”

Wanita di hadapanku malah tersenyum, bukannya menjawab. Namun senyumannya tidak seriang dan setulus tadi.

“Kenapa?” Pertanyaan itu spontan keluar dari bibirku.

“Tunanganku ga pernah muji tulisanku. Dia baca, tapi ga pernah komentar sedikit pun.” Suaranya agak bergetar. Namun Anne berusaha membuat senyuman tetap indah di wajahnya, walau kekecewaan terlihat jelas.

“Seenggaknya kamu udah punya satu orang penikmat tetap tulisan kamu.”

Senyumnya menjadi lebih indah setelah kalimatku tadi. Anne memang mudah bahagia, pun kecewa.

“Walaupun aku sekarang hampir ga tau kapan kamu post tulisan baru. Aku sibuk ngurusin ini itu… Maaf ya, Ne..”

“No need to sorry, mas… Ak~~~”

Konsentrasiku hilang, darahku kembali berdesir ketika Anne memanggilku dengan ‘Mas’ lagi.
Kesadaranku kembali ketika Anne menjentikan jarinya tepat di depan wajahku. Aku kehilangan kalimat setelah kata ‘Mas’ tadi. Ah sial! Sepertinya Anne ngambek.

“Ga sopan banget orang ngomong malah bengong gitu.” Suaranya datar, pun ekspresi wajahnya.

“Tiba-tiba kepikiran skripsi..” Kataku berbohong.

“Mau diulang ga yang tadi?”

“Silahkan, princess..”

“It might not be the right time. Tapi… Aku masih suka sama kamu, mas..”

DUAARRR!!!

Getar kejutan itu sangat cepat menjalar ke seluruh tubuhku, membuat lesu.

“Terus?”

“Ga terus-terus. Cuma bilang aja..” Anne tertunduk. Takut tindakan yang diambilnya salah. Paham benar aku.

“Kamu ga pernah jalan. Padahal udah aku kasih lampu hijau dari dulu. Jadi kebalap sama yang lain kan. Aku jadi keburu dijemput sama dia, mas..” Lanjutnya. Masih tertunduk.

“I’m not blaming you, Ne.” Suaraku terdengar payah sekali.

“I’ve been trying another way for you.”

“I know, Ne. I know.”

“Another way to see your face, your smile, your laugh for real.”

“Terlalu banyak yang akan aku pertanyakan soal masa lalu itu, Ne. Biar aku tahan aja.”

“I want you to know that. Itu aja, mas..”

“Iya. Aku salah. Aku telat. Kalah cepet.. Whatever you named it. Sampe akhirnya setahun belakangan aku jadi random karena ini.”

Anne tidak merespon kalimatku. Hanya memperhatikanku dalam-dalam.

“Kamu jangan mikirin soal ini lagi, Ne. Biar aku aja.”

“I’m open for discussion, mas.”

“I won’t!”

“Okay.”

“I do love you. Aku seneng kamu seneng. Aku nyesek kamu senengnya bukan sama aku..” Kataku, terlalu jujur.

“Dan aku suka kamu masih manggil aku dengan sebutan, ‘mas’.” Lanjutku sebelum Anne memotong kalimatku tadi.

“Okay, mas.” Bibirnya berusaha tersenyum riang.

“Jadi ini untuk pertama dan terakhir kita ngobrolin ini, ya? Kecuali kamu batal married sama tunangan kamu. Kita boleh diskusi lagi soal ini.” Sengaja aku menjelaskannya dengan nada yang agak bercanda agar suasana mencair dan Anne mengangguk setuju.

“Kamu kapan sidangnya, mas?” Pertanyaan netral yang meluncur setelah Anne menyeruput cappuccinonya.

“Tanggal 4 bulan depan. Kenapa? Mau dateng? Hahaha”

“Kenapa engga?” Jawabnya diiringi senyum riang.

***

Kuhempaskan tubuhku ke ranjang, setelah melewati selebrasi sidang kelulusanku yang berjalan lancar. Akhirnya dosen penguji bisa kutaklukan. Keluar ruang sidang, aku langsung disambut tawa riang serta pelukan dari Anne. Wanita itu menepati janjinya untuk datang saat sidang kelulusanku. Tentu saja dia ikut acara selebrasi tadi bersama kawan-kawanku.

“MAS GEMA, MANTAN PLAYBOY YANG GA BISA MOVE ON!! LOL!!!”

Senyum geli mengembang di wajahku ketika membaca balasan chat sahabatku yang baru saja kuceritakan kronologi hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s