Chapter 1

Di dalam ruangan sempit yang gelap dan beraroma agak tidak sedap, Aleya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Wajahnya sudah bengkak dimana-mana, tangisnya sudah tidak bisa keluar lagi. Dirinya kini diselimuti kekesalan dan ketakutan sekaligus. Dinyalakannya keran air untuk membasuh wajahnya. Seragam sekolahnya sudah lusuh jauh sebelum dia masuk ke kamar mandi wanita di sekolahnya ini.

“Brengsek!” umpatnya sambil terus membasuk wajahnya. Dia merasakan pandangan matanya semakin terbatas saja. Dari luar terdengar langkah dan suara beberapa orang cewek. Setelah meyakinkan cewek-cewek itu adalah teman sekelasnya, Aleya keluar kamar mandi.

“ALEYAAA!!!” pekik dua cewek itu histeris lalu memeluk teman sekelasnya. Aleya hanya pasrah dan berbisik memohon agar tidak berisik.

“Eh, guru nyariin elu kali. Malah ngumpet disini.” Kata salah seorang cewek.

“Bilang ke guru kalo gue lagi nenangin diri dulu, please. Jangan sampe Farhan tau, please.” Kata Aleya memelas dan dibalas anggukan serta pelukan dari dua temannya itu.

***

Siang itu, raganya sedang duduk bersama teman-temannya, namun pikirannya jauh menerawang entah kemana. Cara duduknya sangat tidak nyaman, bergeser ke kiri, ke kanan, bangkit dari kursi, duduk lagi, begitu seterusnya dan akhirnya duduk tenang. Kegelisahan bukan minggat darinya, malah membawanya jauh untuk memikirkan seorang wanita yang pernah (dan masih) mengisi hatinya sampai sekarang, Aleya.

“Lo kenapa, Ben?” Tanya salah seorang teman komplotannya.

“Kepikiran Aleya…” jawabnya sambil bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir.

“Temen gue ada yang satu sekolah sama Aleya, denger-denger cowoknya kelainan jiwa ya? ” Tanya teman yang lainnya.

“Kayaknya… beberapa kali Aleya sempet cerita pernah ditampar gitu sama cowoknya yang sekarang.” Jawab Ben masih terus berjalan mondar-mandir sampai akhirnya dihentikan oleh temannya yang tiba-tiba memberikan handphone kepada Ben.

“Telfon Aleya kalo emang lo kepikiran sama dia terus. Buruan! Sebelom nyesel! Senin harga naik!!!” kalimatnya berawal serius namun berujung minta dihujat oleh teman yang lainnya, termasuk Ben. Tapi akhirnya Ben mengikuti saran salah satu temannya itu. Dia berjalan menuju ke halaman depan dan langsung menghubungi Aleya.

Tidak perlu menunggu waktu lama, Ben sudah bisa mendengar sapaan dari perempuan yang masih menyita hatinya. Suara Aleya berbeda, tidak seriang biasanya.

“Lo kenapa deh?” Ben tanpa basa-basi lagi langsung bertanya.

“Kenapa apaan?” Masih di ruangan yang sempit, Aleya berusaha mungkin membuat suaranya menjadi normal.

“Ga usah balik nanya gitulah. Tinggal jawab aja!” Kekesalan Ben mulai muncul dan kalimatnya dibalas dengan isak tangis Aleya, terdengar sangat pelan di telinga Ben.

“Hey, Hey.. Kenapa? Perlu gue jemput? Keluar sekolah jam berapa?” Nada bicara Ben merendah sangat drastis. Menjadi sangat lembut dan sedikit panik karena isak tangis Aleya semakin terdengar jelas.

“Aleya… Gue berangkat sekarang ya. Nanti kalo udah sampe, gue telfon lagi. Sabar ya.”

Setengah berlari Ben masuk ke dalam rumah lalu menyambar jaket, kunci motor dan helmnya. Teriakan teman-temannya  yang penasaran tentang apa yang terjadi dengan dirinya tidak diindahkannya. Pikirannya sekarang hanya tertuju kepada Aleya.

***

Ben berhasil membawa Aleya ke rumah sahabatnya setelah meyakinkan beberapa guru di sekolah Aleya bahwa dia adalah kakak sepupunya, kebetulan mereka memiliki wajah yang mirip. Tangan Aleya masih gemetar ketika mengambil gelas untuk menghabiskan isinya. Urat-urat di keningnya pun masih menegang, menandakan kalau kekesalannya masih belum sirna. Sementara di sebelahnya, Ben hanya memperhatikan Aleya, menunggu hingga Aleya agak tenang. Setelah selesai minum, Aleya menolehkan kepalanya pada Ben dan tersenyum lebar, Ben yang melihat itu mengernyitkan dahinya.

“Sehat?” Tanya Ben masih mengernyitkan dahinya.

“Sehat. Cuma masih kesel aja.” Jawab Aleya sambil melengoskan wajahnya. Ben tertawa kecil dan tangannya meraih wajah Aleya untuk memeriksanya.

“Mau dibawa ke polisi biar diperiksa ga?” wajah Ben mulai menunjukkan kekhawatiran.

“Ga usah!” Aleya menjauhkan kepalanya dari tangan Ben.

Mereka berdua terdiam dan tidak saling memandang untuk beberapa waktu sampai akhirnya Aleya menyandarkan kepalanya di pundak Ben, lalu Ben merangkulnya.

“Lo kenapa sih ga putus dari dulu? Mesti banget sampe dipukulin separah ini ya?” suara Ben terdengar sangat lirih di telinga Aleya.

“Ga semudah yang lo pikirin.”

“Kenapa? Sayang? Lo sayang sama gue tapi gue diputusin? Mentang-mentang Farhan satu keyakinan sama lo?” tangannya membelai lembut rambut Aleya.

“That’s not the same case. Gue ga mutusin, bukan karena gue sayang banget sama dia, tapi karena gue ga punya daya. Semua cara yang bikin dia kesel sampe marah, udah pernah gue lakuin, tapi gue bukan diputusin malah digamparin. Sementara kalo gue putusin, dia ngancem bakalan bunuh diri dan dia akan terus ngejar gue, sementara gue ga ada tempat berlindung dari…”

“Orang tua lo? Gue? Sahabat-sahabat lo?” belum selesai Aleya berbicara, Ben memotong omongannya. Aleya terdiam, hilang sudah hasratnya untuk berbicara.

Keduanya terdiam lagi dan Aleya menarik tubuhnya, membuat jarak antara tubuhnya dan Ben. Sementara lelaki berbadan subur itu tidak terlalu menyadari, malah mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang lalu menjauh dari Aleya ketika panggilannya sudah terjawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s