Tuhan Memang Satu, Kita yang Tak Sama

Perkenalkan, biasa dipanggil Arry dan kondisi tangan kanan sudah jauh lebih baik. Sebelum masuk ke curhat yang sesuai sama judul, gue mau mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang masih memberikan kebahagiaan di tengah tangan kanan yang lagi ga bisa difungsikan dengan baik dan benar melalui ibu komandan dapur (nyokap gue), bapak komandan (bokap gue), Angga (pacar gue), orang-orang jauh dan dekat (dalam artian sebenarnya dan tidak), dan koneksi Internet beserta informasi yang ada. APALAH AKU INI TANPA MEREKA??? (Oke ini lebay). Gue juga turut berduka untuk teman kita, abang Schall, Tuhan mempunyai rencana indah buat ayahanda tercinta. Iya, gue selalu ga kuat kalo denger kabar temen gue ditinggal orang tuanya *melukin emak*. Udah ya, ini kok intro nya panjang banget ngomong-ngomong -_-

Gini, kalian semua pasti pernah denger penggalan lagu dengan lirik yang sama dengan judul gue.. ya kalo ga denger, minimal baca deh.. Apa? Ga tau juga? Hehehe, coba google nya dimanfaatin. Penggalan lirik itu emang familiar sih, terutama buat pelaku cinta beda agama, beda keyakinan, beda dunia, you named it… eh tapi kalo beda dunia kayaknya ga termasuk deh, CMIIW. Mengiris hati ya lagunya oom Marcell itu? Jawabannya pasti iya, ini buat yang keluarganya ga ho’oh soal perbedaan keyakinan, yang ho’oh mah pasti happy salma aja, atau happy call, happy tree friends juga bisa. Lagu itu tiba-tiba aja nongol ketika gue sedang menjalani hubungan dengan orang yang berbeda keyakinan dengan gue.. yeah.. been there, done that! Hahaha. Resek? Iya, karena keluarga gue juga agak strict kalo soal keyakinan. Sekarang sih udah dapet pacar yang keyakinannya sama, ya paling engga, ketika KTP kita dijejerin, isian kolom agamanya sama dan cukup ke KUA terdekat kalo mau nikah nanti.

Good news yang mau gue berikan disini adalah, kawan gue yang setelah sekian lama berpacaran akhirnya melangkah menuju jenjang yang lebih serius, NIKAH! Iya, harus gue capslock dan bold. Suatu hari, gue dapet whatsapp dari Zulka, si cewek yang mau nikah ini

“Ry, mau bantuin aku ga?”

Dan nampaknya urgent banget sampai dia menghubungi gue via path segala macem, mungkin udah putus asa. Akhirnya gue sanggupi asalkan gue masih bisa. Dari situ dia menceritakan kalau dia dan Toho (pasangannya) akan melangsungkan pernikahan januari nanti, kalo ga ada halangan dan menikah secara Katolik. Sebagai teman, gue ikut bahagia dong mendengar kabar bahagia itu (ditambah lagi gue ga terlalu mikirin mau temen gue nikah beda agama, beda adat, beda waktu, beda kelamin, asal ga beda dunia aja). Zulka meminta tolong gue untuk jadi saksi di penyelidikan kanonik (yang menurut penjelasan Zulka, dia harus bawa saksi yang seagama sama dia untuk ditanya-tanyain gitu sama Romo, CMIIW), gue menyanggupi karena gue kira januari mulainya, ternyata pas akhir pekan gitu. Gimana ya, tangan gue belom boleh dibawa keluar saat itu dan kebanyakan temennya pada minta Toho yang ikut agamanya Zulka.. ih ga boleh gitu, kan hak orang untuk milih agamanya *ditoyor*. Pada akhirnya gue dapet kabar kalo Zulka dapet orang yang mau bersaksi buat dia, syukurlaaah~

Akhirnya gue tanya gimana penyelidikan kanoniknya berlangsung dan jawabannya cukup melegakan, tapi mereka sekali lagi harus nunggu surat dari pusat, sekitar sebulan lamanya. Yak! Dimana pusatnya? Vatikan. Tempat yang dari kecil mau gue kunjungi terutama saat Natal, gue penasaran gimana misa natal berlangsung disana padahal di tv suka disiarin tapi gue ga boleh nonton. Balik lagi ke cerita Zulka dan Toho, yang ternyata mereka melangsungkan pernikahan di medan yang bakal dipesta-adatin (APAAN SIH BAHASA ELU, RY??? HAHAHA) pokoknya gitu deh, nikah pake adat Batak yang tau sendiri bakal semeriah dan seseru apa. Akhirnya gue tiba di pertanyaan yang cukup mengaduk emosi (kalo gue berada di posisi Zulka juga kayaknya)

“Terus bokap gimana?”

Kenapa gue nanyain bokap doang? Karena gue dan Zulka memiliki tipe orang tua yang sama, bokap yang ga bisa dibantah dan nyokap yang akhirnya akan selalu mendoakan kebahagiaan yang terbaik untuk anak-anaknya *mewek*. Balasan Zulka masih sama kayak dugaan gue, bokapnya marah karena Zulka nekat untuk melangsungkan pernikahan beda agama tersebut, walaupun Zulka dan Toho ga ada yang pindah dari agamanya.

“Sedih sih ngecewain bokap gitu. Tapi aku harus milih.”

Gue senyum getir ngeliat balesannya Zulka. Dulu gue juga dibilangin gitu mulu sama mantan gue

‘Ini baru awal perjalanan…’
‘Kan ga selamanya tinggal sama orang tua..’
‘Kita kan harus milih yang bikin kita bahagia..’

Saat itu sih ya, setelah mikir (Tenang aja, walaupun otak gue suka absurd, tapi kadang bisa fokus juga… fokus absurdnya maksud gue), gue bertanya lagi sama diri gue sendiri..

‘Apakah dia orang yang pantas?’
‘Apakah benar dia orangnya?’
‘Apakah kamu penasaran?? Saksikan setelah yang satu ini!’ (Bohong!! Padahal iklannya ada sepuluh, tapi dia bilangnya cuma satu)

Believe or not (Udeh kayak acara tipi jaman dulu), someday you’ll find your true love.. CEILEEEH! UDAH! IYAIN AJA!! Terus jangan lupa juga sama yang katanya,

“Pasangan kita itu, refleksi dari diri kita sendiri.”

Gue ga tau sih itu kata-katanya siapa dan ga tau juga itu susunan katanya bener apa engga, ya intinya gitu deh pokoknya.Orang yang tepat di saat yang tepat dengan perasaan yang tepat pula.

 

 

 

 

*melenggang elegan turun podium*

Ciao!

Advertisements

4 thoughts on “Tuhan Memang Satu, Kita yang Tak Sama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s