Tugas Risa Sudah Selesai

Sinar lampu menyilaukan pandanganku. Aku terbaring dengan tatapan yang semakin buram. Pikiranku sejenak melayang-layang tanpa beban. Sebuah kalimat yang berhasil membuatku jatuh ke relung penderitaan paling dalam terngiang. Senyum wajahnya hadir menyekat cahaya yang kuterima, samar. Semakin lama, raut wajahnya semakin nyata. Ekspresinya berganti menjadi cemas, tapi aku berusaha meyakinkannya kalau aku baik-baik saja. Bulir air mata menghiasi pipinya, pipi yang selalu kukecup mesra. Mataku terpejam dan tak bisa terbuka lagi, diiringi dengan nafas panjang untuk terakhir kali, meninggalkan lelaki yang sangat aku cintai.

Sebuah malam di bulan Juni, Risa dan Ihsan duduk di sebuah coffee shop. Mereka tidak sedang dalam kondisi bahagia. Risa sekuat tenaga menahan air mata, mencoba tegar di hadapan Ihsan. Sedangkan, Ihsan tidak berusaha untuk tidak menyakiti hati Risa. Di hatinya, Risa sedang tergeser kedudukannya.

“Kenapa kamu selingkuh lagi?” Risa bertanya dengan suara yang amat tenang.

“Aku ga pacaran sama Jean. Aku cuma deket aja belakangan ini.” Nada bicara Ihsan terdengar menyebalkan untuk Risa.

“Kenapa bisa sampe deket gitu? Emang ga inget punya pacar?”

“Inget kok.”

“Terus?”

“Aku udah ga ada rasa lagi sama kamu.”

Tarikan nafas Risa cukup lama tertahan, hampir saja Ia lupa membuang kembali nafasnya. Risa mencoba tenang. Risa mencoba untuk tegar.

“Empat tahun aku berusaha untuk jadi perempuan yang pantas, tapi selama 4 tahun itu pula kamu udah 3 kali selingkuh.” Risa memejamkan matanya, mencoba untuk tidak meledak-ledak.

“Aku udah ga ada rasa lagi sama kamu. Kita putus aja.” matanya memancarkan perasaan bersalah, namun tidak mau disalahkan.

“Baik. Tugas aku untuk selalu ada dan support kamu saat kamu lagi susah, selesai sudah ya. Semoga pilihanmu nanti mau bantuin kamu diri, kalau kamu jatuh lagi.” Risa bangkit dari kursinya dan melangkah meninggalkan Ihsan.

Ihsan masih duduk terpaku tanpa tau harus berbuat apa. Di satu sisi, hatinya hancur mengetahui Risa merelakan keputusannya untuk mengakhiri hubungan. Tanpa menahannya. Di sisi lain, Ihsan lega bisa menjalin hubungan lebih dekat dengan Jean.
Risa berjalan pelan sambil menunduk. Air matanya tidak lagi berlomba ingin keluar. Hanya senyum kecil yang menghiasi bibirnya. Hatinya hancur, perasaannya tersesat di jalan buntu. Keinginan Risa saat ini hanya satu, ingin sampai di kamarnya. Mobil sport dengan kecepatan tinggi melaju ke arah Risa. Terbawa suasana hati yang kalut, Risa tidak hati-hati menyebrangi jalan. Tubuhnya terpental, terhantam mobil sport berkecepatan tinggi tadi.

Advertisements

4 thoughts on “Tugas Risa Sudah Selesai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s