Terima Kasih #SocmedStory

Ola!

Lagi-lagi gue mau minta maaf karena jarang banget update blog gue di sini. Ini murni kesalahan gue yang belum bisa mengatur waktu dengan baik dan benar, serta selalu dikalahkan dengan rasa malas. Sebenarnya banyak yang mau gue ceritakan, namun berujung… “yaudahlah yaaa”. Tapi kali ini, hari ini, di hari Senin yang ga cerah-cerah amat, tapi ga gelap gulita juga, gue mau ceritakan pengalaman gue bersama #SocmedStory, apaan tuh? Yang jelas bukan kuis dangdut!

Gue lupa kapan dan dari siapa gue melihat tentang #SocmedStory ini. Iya, gue sepelupa itu, tapi kalau sama kamu aku ga akan lupa kok, bhaaay! Dari rasa ingin tau gue yang besar, berujunglah gue pada halaman blognya si mas ochoy. Oke! Setelah membaca blognya, gue memutuskan untuk, “GUE HARUS IKUTAN NIH!!!”. Tanpa memikirkan apa hadiah yang akan diberikan -ya gue juga ga ngarep menang sih, karena gue ini hanyalah sebutiran upil yang ada di semesta yang luas ini-, gue mulai memikirkan aib cerita mana yang akan gue publikasikan. Dunia social media gue dan dunia nyata gue beda tipislah. Social media ini salah satu hal yang masuk dalam sejarah hidup gue. Okaaay, setelah melewati pemikiran, akhirnya gue memutuskan untuk menulis kisah cinta #CIHYEEE. Yang setelah gue pikir-pikir lagi, gue berubah pikiran, tapi topiknya maish tetap cinta-cintaan, tapi dijadikan fiksi :))) karena kata Dio gue anaknya baik hati, jadi gue kasih tau deh tulisan yang gue ikut sertakan dalam #SocmedStory itu. Silahkaaan…

 

Connecting People and Heart

December 2006

Jariku masih giat memainkan mouse, klik sana-sini untuk melihat profil Friendster orang lain, hanya untuk melihat bagaimana tampilan profil mereka. Beberapa ada yang membuatku berucap, “wow” dengan perasaan takjub, tidak jarang yang membuatku tertawa karena tampilan profil mereka begitu…lucu (karena aku tidak mau bilang jelek). Selain Friendster, aku juga bergabung dengan LiveConnector. Dan pada akhirnya, aku lebih suka menatap jendela yang menampilkan situs LiveConnector. Karena menurutku, LiveConnector lebih tersusun, dengan template profil yang sama, jadi setiap membuka profil seseorang, tidak akan terkejut sampai dibuat pusing karena gemerlap tampilannya.

Sore ini aku masih betah ngobrol dengan seseorang, lelaki, seumuran denganku, tapi tinggalnya di Cipulir. Aku saat itu hanya ingin bersenang-senang dengan hal baru, tapi tentu saja, kesenangan tidak bertahan lama karena sekitar 15 menit lagi waktu sewaku di warnet ini habis. Dan waktu sudah semakin sore, tentu saja aku harus pulang kalau tidak mau mendengar omongan jutek dari mamaku.

“Lo beneran suka Nidji?”

“Iya! Ring Back Tone gue aja lagunya Nidji!”

“Mana gue telfon sini”

Dua jam aku menghabiskan waktu di warnet, dua jam pula aku ngobrol dengan orang bernama Gery, yang berhasil mendapatkan nomor handphoneku hanya gara-gara kita sama-sama menyukai Nidji. Awalnya aku merasa bodoh kenapa memberikan nomor handphoneku padanya, kenal juga baru. Tapi bodo amat, palingan dia hanya sekedar bluffing mau menelfon. Kalaupun pada akhirnya orang itu menyebalkan, aku bisa langsung mengganti nomorku dengan nomor baru.

Setelah tiba di rumah, barulah handphoneku berdering. Panggilan masuk dengan nomor tidak dikenal, bukan nomor operator lain, sepertinya nomor rumah. Aku merasa aman karena yakin itu adalah nomor rumah, atau kalau apes, mungkin aja nomor wartel!

        “Halo..” sapaku datar.

Aleya! Ini Gery.” Sapa orang seberang tidak canggung lagi.

        “Oh.. hey..”

Ternyata bener RBT lo lagunya Nidji ya! Hahaha

        “Kan udah gue bilang.”

Eh iya, ini nomor rumah gue.

        “Gue kira nomor wartel.”

Eh gue kayaknya belom add Friendster lo deh. Besok online lagi ga? Online dong, siang. Kita ngobrol lagi.

        “Hmm… ga bisa besok kayaknya deh. Mungkin lusa.”

Yaudah lusa. Gue tunggu ya! Nanti gue SMS deh biar kita bisa barengan online

Sejak saat itu, aku dan Gery menjadi akrab. Seiring dengan berjalannya waktu, kami menjadi lebih dari sekedar teman chatting.. ya.. pacaranlah. Gery mulai sering menghubungiku setiap minggu sehabis dia ibadah di gereja, dia adalah lelaki pertama yang sangat memperhatikanku (setelah keluargaku), Gery juga orang yang selalu ingin tau perkembangan tentang dengan diriku. Tidak hanya itu, Gery juga menceritakan kehidupan pribadinya yang rupanya dia anak pertama dari dua bersaudara. Gery dan adik perempuannya sangat akrab, sampai adiknya pun kenal denganku. Kami pernah beberapa kali bertemu sebelum akhirnya musim ujian menyibukkan kami berdua.

Setelah musim ujian selesai, kami tinggal menunggu hasil, sambil berharap-harap cemas, sambil bermimpi SMA mana yang bisa kami masuki. Dari ceritanya, Gery ingin sekali masuk sekolah di Jakarta Selatan, demi bisa menjemputku setiap hari (yang pada akhirnya aku tau kalau Cipulir dekat dengan Ciledug, sebelum Tangerang. Yang walaupun aku familiar dengan Tangerang, tapi aku sama sekali tidak tau dimana itu Cipulir). Tapi ternyata hubunganku dan Gery tidak bertahan lama, orang tuaku yang mengetahui Gery berbeda keyakinan denganku, memintaku memutuskan hubungan kami. Aku, tentu saja dengan berat hati mengikuti kemauan orang tuaku. Walaupun Gery masih terus berusaha menghubungiku, aku selalu berusaha menghindar.

 

Maret 2012

Pertengahan bulan Maret ini, aku dan Gery mulai saling berkomunikasi panjang lebar melalui Y!M atau Skype Video Call, kami benar-benar memanfaatkan teknologi yang ada. Padahal, kami (akhirnya) menuntut ilmu di daerah yang sama, dan letak kampus kami sangat dekat. Semenjak putus, kami sama sekali tidak saling menghubungi satu sama lain. Baru kali ini, aku akhirnya memberanikan diri untuk ngobrol lagi dengannya, di sisi lain karena dia akhirnya jomblo juga sih. Gery tidak banyak berubah, masih Gery yang penuh perhatian. Gery juga masih menjadi lelaki yang selalu ingin tau bagaimana perkembanganku. Gery yang selalu memberikan waktu dan pundaknya untuk aku bersandar ketika aku mulai lelah. Yang berubah hanya bentuk perutnya yang mulai membuncit. Kadang percakapan kami menyinggung soal hubungan yang lebih lanjut, aku dan Gery sama-sama ingin kembali pacaran seperti dulu, namun kami berdua terlalu takut melukai keluarga kami. Lagian, kondisi seperti ini juga sudah cukup nyaman, setidaknya untuk diriku.

 

September 2014

Hari ini Gery terlihat lebih menarik dari biasanya, dengan kemeja merah maroon. Gery tersenyum ke arahku yang sedang berdiri di depan cermin dengan kebaya modernku. Dia memastikan semua persiapan untuk acara pernikahan tidak ada yang tertinggal, jadi semua bisa beristirahat dengan tenang dan menyambut hari bahagia dengan gembira.

Tuhan sangat baik, mengizinkan aku mengenalmu dengan cara yang unik.” Gery menatapku dalam masih sambil tersenyum.

Tuhan juga sangat baik, mengizinkanku untuk selalu ditemanimu selama ini.” Balasku.

Mungkin kita bisa menjodohkan salah satu dari anak kita nantinya.” Ucapnya sambil tetap tersenyum.

Aku punya hadiah untukmu dan suamimu…” Gery melanjutkan ucapannya lalu mengeluarkan dua buah tiket tujuan Jakarta – Thailand.

Hadiahnya tiket berangkat aja ya! Tiket pulangnya beli sendiri, atau naik gajah aja kalau kalian mau. Sengaja aku bilang calonmu biar ga pesan tiket honeymoon dulu.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Gery sambil tertawa dan meneteskan airmata sekaligus. Entah apa yang aku rasakan, seperti bahagia tapi ada sedikit perasaan aneh, mengingat pengakuan Gery sebelumnya yang rupanya agak patah hati tapi gembira karena kami tidak bisa bersatu namun aku menemukan lelaki yang menurutnya pas menjadi pendamping hidupku.

 

***

Setelah submit cerita di atas, gue mulai rajin bacain cerita dari peserta yang lain. Lucu-lucu juga ya pengalaman mereka, ga kalah serunya kok sama pengalaman gue. Dan setelah sekian lama, kemarin gue lihat notifikasi Twitter gue begini…

socmedstory notif

KYAAAAAAAAAA!!!
Kisah daku terpilih sebagai Best Fiction #SocmedStory, siz!!! Dan ga hanya itu, hadiahnya banyak ye, boook! Ya karena gue pas awal hanya mau berpartisi aja sih, makanya ga perhatiin hadiahnya apa. Duh, terima kasih ya mas ochoy yang sudah memancing imajinasiku lagi. Mudah-mudahan abis ini, kubisa menulis lagi seperti dahulu kala ku terluka… *tsaelaaah!  Udah deh segitu aja dulu sebagai permulaan semangat menggelora bak para pejuang ini, semoga semangatnya tidak cepat padam seperti api cintaku padamu *BHAY!

XO,
FJRN

Advertisements

One thought on “Terima Kasih #SocmedStory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s