Dalam Diam

Nona hanya duduk di sudut ruangan.
Menyapukan pandang ke hampir semua orang.
Tak lupa senyum ceria bak bangsawan.
Sadarkah Nona ada hati yang tertawan?

Nona duduk tertunduk di sudut coffee shop, tubuhnya bergetar menahan rasa yang dirinya sendiri tidak bisa mengartikannya. Tuan masih memandangnya lekat-lekat. Kadang matanya terpejam begitu dalam, seperti ingin menelan sang lawan bulat-bulat. Aroma kuat dari espresso kesukaan Tuan tak lantas membuat jernih pikirannya. Tuan dan Nona masih terombang-ambing dalam diam, suram.

Nona masih tertunduk, giginya gemeretak, badannya bergetar.

“Saya akan menghilang kalau itu mau kamu.”

Nona memecah keheningan. Tuan terhujam jantungnya. Berantakan.

Nona masih bergetar tubuhnya. Tuan masih terpaku raganya. Kesunyian menemani dunia mereka.

Dalam diam, Nona berusaha mencerna.
Dalam diam, Tuan berusaha menerima.
Dalam diam, mereka masih saling mencinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s