Life Is Absolutely Fair

Nona masih tersenyum, Tuan sedang angkuh.
Nona kembali menghela nafas, Tuan lagi-lagi mengalihkan pandang.

“Kalau kamu nggak pernah percaya sama saya, feel free untuk cari orang yang bisa kamu percaya.” Nona berkata tenang.

“Oh.. yaudah. Kamu yang kasih saya kebebasan untuk memilih lagi. I’ll do.” Mata Tuan sangat mudah dibaca.

“Karena ini bukan pertama atau kedua kali obrolan kita isinya soal kamu yang insecure. Dan kalau kita nggak saling percaya, buat apa juga?”

“Yaudah. Udahan bahasnya. Udah selesai juga.”

Sesuai dugaan, Tuan tidak pernah berubah. Nona tersenyum, berusaha tetap tenang.

“Saya kira we’re not done yet…”

“You gave me an option, means you’re prepare for the worst.”

“I am. But I though, after all this time, we believe on each other.”

“I put my trust on my self. Not on you, not even this world!”

BANG!!!
Hati Nona tertembak. Serpihan-serpihan hati yang susah payah dikumpulkan, kini berhamburan, lagi, dikarenakan orang yang sama.

“No wonder this is not working.”

Nona tersenyum.

—–

A few weeks ago

“Kalau masih ada yang mau kamu pilih, feel free, lho.” Tuan mulai insecure, lagi.

Nona mengernyitkan dahi, menatap heran kemudian tertawa, “Buat apa? Segitu insecure ya kamu sampai keluar kalimat itu berulang kali?”

“Ya kalau masih ada yang mau kamu pilih aja.”

“Ini bukan sekali dua kali sih kamu kayak gini, ini keempat atau kelima kalinya kamu kasih saya kebebasan untuk memilih lagi. Tapi jawaban saya masih sama. Saya udah milih kamu.”

Tuan tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s