Hormones 3 The Final Season

Saya akhirnya punya waktu lagi untuk nulis salah satu series kesukaan saya; Hormones The Series. Saya mulai nonton series ini dari tahun lalu karena.. PEACH! Tau dong yang jadi Top di The Billionaire (Top Secret: Wai Roon Pan Lan). Serial produksi GTH ini menyuguhkan semua lika-liku kehidupan remaja, mulai dari percintaan sampai dunia kelamnya. Kalau serial kayak gini dibikin di Indonesia, pasti udah langsung didemo nih, karena materinya cukup kontroversial sih, ada drugs, sex, pregnancy, violence dan homosexuality, yang bahkan di serial tersebut tetap kompleks.

Hormones 3, The Final Season directed by Songyos Sugmakanan (kayak season 1 dan 2) ini masih lanjutan dari season 2 dengan pemain-pemain baru. Mereka menyebutnya.. Hormones The Next Gen (eh apa The Next Gen doang ya, lupa hehehe)

hormones-3-final-season
Kayak series lainnya, Hormones 3 juga diawali oleh cuplikan dari Season 2 dan buat saya berjalan smooth sampai episode terakhir. Hormones Final Season hampir sama kayak Hormones 1 dimana setiap episode menceritakan kisah-kisah sesuai dengan nama hormone yang diambil untuk masing-masing episode. Karena akan panjang banget kalau saya bahas per-episode, jadi saya memutuskan untuk ngomongin karakter yang menarik buat saya aja yaaa.

Sun
Karakter Sun dimainkan oleh Teeradon Supapunpinyo atau James atau siapapun nickname-nya. Cerita yang berpusat pada Sun ada di episode 9. Sun yang merupakan vocalist dari See Scape sama seperti anak laki-laki pada umumnya; nakal, clubbing, nggak pulang ke rumah, etc. Orang tuanya juga diceritakan segitu percayanya sama Sun sampai akhirnya sidoy ‘kebablasan’.

hormones-3-the-final-season

pict: cyberspaceandtime.com

Setelah perkenalan nggak sengaja dengan wanita yang usianya jauh lebih tua, Sun tergiur dengan tawaran si wanita itu. Money talks. Sun menerima tawaran dirinya dibayar untuk menemani wanita-wanita (yang butuh kasih sayang, kalau kata saya dan teman saya). Sampai akhirnya, he’s lost dalam sebuah party dan hal ini diketahui oleh kedua orang tuanya yang jadi sangat kecewa pada Sun.

Concern saya, episode ini cukup menarik. Kenapa? Keluarga Sun diceritakan sebagai keluarga yang berkecukupan, harmonis dan terlihat baik-baik. Tapi kondisi itu nggak bikin Sun running on the right track forever. Ibarat cerita si kerudung merah, ada aja melencengnya, atau “Yah namanya juga anak muda, sister”.

First
Sebenarnya saya malas banget lihat mukanya Nutchapan Paramacherenroj, cowok kelahiran tahun 2000 yang meranin First. Tapi karakter First yang diceritakan pada episode 8 ini menarik buat saya. First ini pelari yang (tadinya) suka sama Pang (Nichaphat Chatchaipholrat) dan minta bantuan sama Oil (Narikun Ketprapakorn). Tapi Pang nggak suka sama First dan akhirnya tau kalau Oil suka sama sidoy. Pacaranlaaah! Tapi sebenarnya, issue First bukan soal relationship.

First diceritakan sebagai anak yang periang ketika bersama teman-temannya, namun dibalik itu semua, ternyata hubungannya dan kedua orang tua tidaklah harmonis. First seringkali mendapat medali di kejuaraan lari, merasa nggak di-appreciate sama orang tuanya. Orang tuanya hampir (atau malah) setiap hari berantem dan ayahnya main fisik ke ibunya. Di serial ini, peribahasa “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” direalisasikan oleh First yang akhirnya menampar pacarnya, Oil.

Oil
Oil (Narikun Ketprapakorn) udah nongol di Hormones The Series 2, sebagai sahabatnya Pang, dan masih berlanjut sampai di Season 3. Namun di Season 3, persahabatan Oil dan Pang semakin merenggang karena Oil terlalu rempeus masalah pacarnya, First, yang pernah suka sama Pang.

Masih inget di season 2, masalah Oil dan Sprite? Itu gila dan pathetic menurut saya, tapi acceptable karena saya mikir Oil nggak dapat perhatian dari orang tuanya. Tapi jangan sedih, di season ini, Oil lebih gila lagi. Dia sampai pura-pura sakit, pura-pura check up dan pura-pura minum obat demi terus mendapat perhatian First. Hal gila lainnya, Oil secara diam-diam nyebarin gosip tentang Pang dan Tar (Gun Chunhawati).

Walaupun saya nggak suka sama bentukannya Narikun Ketprapakorn, tapi dia berhasil bikin saya geregetan sama Oil. Maksudnya, dia bisa ekstrim gitu hanya untuk mendapatkan perhatian. Pada akhirnya, semua kebohongan Oil kebongkar dan dari sinilah kita tau kalau masalahnya bukan ada di keluarganya, melainkan di Oil sendiri. Dari yang saya tangkap, Oil nggak bersyukur atas hadirnya orang-orang di sekitar yang sayang sama dia dan selalu menginginkan lebih.

Zoomzoom
Karakter Zoomzoom (Narupornkamol Chaisang) nggak bikin saya geregetan, tapi saya suka sama karakternya. Zoomzoom ini agak rebel, dia sampai punya geng yang cukup disegani di sekolah. Zoomzoom ada feeling terhadap Pala (Wongrawee Nateeton) yang mengidap HIV (kalau nggak salah) dan punya Nenek overprotective dan ngelarang Zoomzoom ngedeketin Pala.

Selain masalah percintaan, Zoomzoom juga diceritakan punya sesuatu yang unik dengan keluarganya. Setelah orang tuanya berpisah, beberapa waktu kemudian, ayahnya bilang kalau ingin menikah dengan laki-laki. Yes, her dad’s gay. Pada awalnya, Zoomzoom nggak bisa nerima ayahnya seperti itu dan sempat malu, tapi itu nggak berlangsung lama karena teman-temannya support dan dia bisa melihat kalau ayahnya bahagia.

The point is I don’t know being guy is wrong no, tapi melalui episode ini, saya bisa lihat kalau sesuatu yang dipaksakan untuk menjadi normal (menurut orang-orang banyak) bisa aja bikin orang itu nggak happy.

Jane
Last but not least… Jane yang dimainkan ciamik oleh Kanyawee Songmuang. Karakter Jane udah nongol sejak season 2, jadi temennya Win pas lagi di New York. Dan teaser season 3 di ending season 2 (lha pusing) juga ngasih unjuk kalau Jane akhirnya balik lagi ke Thailand. This is my favorite character after Sprite. Why?

hormones-3-the-final-season

pict: cyberspaceandtime.com

Sebenarnya problem Jane nggak terlalu gimana-gimana, tapi saya suka banget sama karakter ini. Jane ini menurut saya orangnya free soul gitu dan bisa dibilang rebel bagi orang-orang konvensional. Jane balik ke Thailand atas permintaan orang tuanya, karena saudaranya meninggal dunia. Ibunya jadi overprotective karena tau Jane pernah jadi ‘pemakai’ ketika di New York. Point lainnya, Jane ketangkep basah lagi ‘high’ pas di club sama cowok yang pernah ditolak dan terancam diberhentikan dari drum major.

Ending-nya, Jane mundur teratur dari drum major walaupun gurunya habis-habisan membela dia dan bisa berarti membenarkan berita dia ‘high’ pas di club. Karakter Jane coba menyampaikan kondisi dimana se-rebel atau se-suck apapun hidupmu, ketika kamu salah, akui, jangan malah cari pembenaran sana-sini.


Well…
ternyata panjang juga ya post kali ini, sampai nggak berasa nulisnya. Setelah ngikutin 3 season Hormones The Series, saya tau kenapa ini fenomenal banget di Thailand sana. Di Hormones The Series 1 lebih gila lagi, karena ada scene dimana Phai (Thanapob Leeratanakajorn) nemenin cewek (yang pernah one night stand sama dia) untuk aborsi. Hormones The Series emang cukup ekstrim jalan ceritanya, tapi sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diambil dari tiap episode. Udah ya, saya capek ngetiknya. Kalau ada film atau serial Thailand oks, kasih tau ya!

XO
– FJRN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s