Faedah dari “How to Be Single”

Ola!
After a looong time!
Akhirnya benar-benar bisa nulis lagi. Kemarinan niatnya mau ceritain salah satu film Thailand tapi… nontonnya belum selesai dan malas ngelanjutin //anaknya bosenan, tapi nggak cepet bosen sama kamu kok//. Terus lagi baca-baca soal film, ada 1 judul film yang menarik, “How to Be Single”. Meluncurlah saya ke salah satu layanan streaming dan ternyata udah ada!

faedah-dari-how-to-be-single

photo: clawtv.com

Baru lihat judul dan movie poster-nya, saya udah ngira kalau film satu ini bakal bikin at least senyam-senyum lucu. “How to Be Single” ini genre-nya romantic comedy, directed by Christian Ditter, yang diproduseri oleh John Rickard dan Dana Fox. Kalau kalian tanya saya, itu siapa, saya juga nggak tau, lebih tepatnya nggak terlalu merhatiin hehe. Saya kan bukan mau review filmnya, karena kalau untuk urusan review gitu, pastinya udah ada yang lebih handal daripada saya yang hanya remah-remah debu untukmu. Tapi sebelum saya kasih tau faedah-faedah yang bisa diambil dari “How to Be Single”, ya dikasih tau dululah gimana sih si “How to Be Single” ini.

Menceritakan tentang Alice (Dakota Johnson) yang break sama seorang cowok, Josh (Nicholas Braun) yang udah dipacarinya dari tahun awal perkuliahan- kemudian menjalani hari-harinya sebagai single. Melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan, ketemu banyak orang baru, etc. Selain kisah tentang Alice dan perjalanan cintanya, film “How to Be Single” juga menceritakan tentang Lucy (Alison Brie), cewek yang mencari the one namun sangatlah selektif. Kemudian ada juga cerita tentang Meg (Leslie Mann), si independent yang (awalnya) nggak butuh cowok namun akhirnya dia mempersilahkan seorang cowok, Ken (Jake Lacy), untuk masuk ke kehidupannya. Walau perjalanan cinta mereka berbeda-beda, tapi benang merah dari kisah para karakternya ini tetap tentang how to be single.

Jadi, apa aja faedah yang bisa diambil dari film “How to Be Single”???

 

Ngomongin pernikahan dengan orang baru bukanlah ide yang bagus.

Di awal film, ada scene saat Lucy (Alison Brie) lagi duduk di sebuah coffee shop (maybe) dan disapa oleh laki-laki, kemudian Lucy meletakan wedding magazine dan laki-laki tersebut notice itu dan ngomong soal pernikahan. Saya nggak tau berapa banyak laki-laki yang akan stay kalau kata-kata selanjutnya setelah “hi” ternyata tentang pernikahan. Dalam scene tersebut, adegan ini dibilang ‘cara yang salah untuk menjadi single’ dan saya setuju dengan “How to Be Single”. Ya malas aja, kurang enak sebagai seorang single untuk memulai (at least obrolan) dengan orang baru.

Bro, pacar situ yang udah lama aja belum tentu mau ngebahasin pernikahan. Nikah itu mudah, kehidupan setelah prosesi pernikahan itu adalah tantangannya. Kenapa? Ya… nikah itu kan nggak hanya ena’-ena’ aja, tapi mempersatukan 2 isi kepala biar semuanya damai sentosa tentunya dengan kerikil-kerikil cinta dalam biduk rumah tangga. Iyain aja bahasa saya, ya~

 

Effort kadang-kadang nggak menghasilkan apa-apa

Masih tentang Lucy. Lucy akhirnya sering ke bar tempat Tom (Anders Holm) bekerja, bukan untuk minum-mabuk-dapet cowok blablabla melainkan untuk mendapatkan free wi-fi. Di awal pertemuan, Lucy terlibat percakapan dengan Tom soal mendapatkan “the one” karena Tom mergokin Lucy lagi buka online dating website. Lucy menceritakan kriteria-kriteria cowok idamannya dan chance serta effort yang harus ia lakukan untuk mendapatkan itu. But in the end, beberapa laki-laki yang ditemuinya karena berkenalan melalui online dating website tersebut nggak berjalan mulus, semua kandas sampai akhirnya Lucy lagi galau karena kebaperan sama 1 cowok dari online dating dan datanglah seorang cowok dari antah berantah yang akhirnya mengisi hari-harinya.

faedah-dari-how-to-be-single

photo: independent.co.uk

Usahalah dalam batas normal, jangan berlebihan karena katanya sesuatu yang berlebihan nggak baik. And don’t be too picky! Kadang ketika kita mencari the one yang benar-benar cocok dengan kriteria kita, malah nggak ketemu-temu. C’mon, man! Try to accept and be grateful for what we have. Tapi namanya juga manusia, ya, nggak pernah puas :))

 

High expectation can kill you

Ini yang sering dialami teman-teman saya akan percintaan, udah ekspektasi ketinggian. Sama kayak pas Alice (Dakota Johnson) yang akhirnya ketemu lagi sama Josh (Nicholas Braun) pas ulang tahunnya. Josh emang mengakui kalau dia merindukan Alice.

//Ya iyalah! Baru jadi gebetan aja bisa kangen, apalagi ini yang dulunya biasa bareng-bareng beberapa tahun.

Singkat cerita, setelah ketemu di acara ulang tahun Alice, tiba-tiba Alice dan Josh udah di kamar (nggak tau kamar siapa, dan nggak mau tau). Mereka udah mulai foreplay sampai akhirnya Josh bilang kalau dia dan ceweknya udah tunangan, Alice yang udah berekspektasi tinggi langsung turn off, terlebih setelah tau kalau malam tersebut buat Josh jadi penutup sebelum Josh benar-benar menjadi suami orang lain, ya jadi tambah berkeping-kepinglah itu hatinya Alice.

Jadi kalau mantan kamu tiba-tiba menghubungi kamu ngajak ketemu, jangan langsung gembira. Siapa tau deseu mau minjem uang, atau mau minta kerjaan atau mau ngasih undangan pernikahan atau deseu mau penutupan juga macam si Josh ini sebelum benar-benar meninggalkanmu. Siapa tau~

 

Fuck buddy is real

Sudah jadi rahasia umum kalau banyak laki-laki dan perempuan yang melakukan hal ena-ena di luar dia pacarnya atau bukan. I don’t care and I don’t really give a shit about that. The problem is when one of these two people being dramatic about their ‘relationship’. Kemudian hal yang seharusnya jadi ena’ dan fun jadi nggak fun lagi karena yang satu pakai perasaan, yang satu hanya mau fun. Atau karena keduanya sebenarnya punya perasaan ke satu sama lain namun denial atau karena satu dan lain hal jadi tak bisa bersama.

Tapi… temenan model gini emang ada kok, walau nggak banyak. Yang ngotact kalau emang lagi mau ena’ atau have fun. Selebihnya, ya terserah elu mau jungkir balik atau ngapain aja. Terdengar kejam sih, tapi nggak juga. Karena ternyata sebenarnya, temenan model gini ya mereka hanya sharing ketika ketemu, nggak berlanjut ke komunikasi terus-menerus. Sama kayak Alice dan Tom.

faedah-dari-how-to-be-single

photo: cinemabravo.com

Kuncinya adalah jangan terlena dengan komunikasi terus-menerus kalau mau menjalani hubungan seperti ini.

faedah-dari-how-to-be-single

Photo: tumblr.com

Lho kok terakhir-terakhir jadi bahas ena’-ena’ ya, hehehe. Maapin ya kalau agak begini bahasannya. Tapi film ini meaningnya bagus kok. Cuma please, dedek-dedek yang panutannya mbak aw yang duet sama Young Lex, jangan nonton dulu ya karena ini film ratingnya R :)

Last but not least, untuk yang masih single (khususnya sobi aku si Dio yang sedang #MenujuDioTenar2017), nggak usah malu jadi single. Frankly speaking, ada beberapa hal yang bisa bikin orang-orang yang udah berpasangan iri sama yang single, lho :P

Overall, “How to Be Single” layak untuk ditonton kaum hawa tanpa ditemni para pria. Walaupun score mereka di IMDb dan Rotten Tomatoes kecil, at least masih ada faedah yang bisa diambil dari film ini selain niat dari menonton film adalah untuk hiburan.

Kasih tau daku ya, gimana perasaan dirimu setelah nonton “How to Be Single” ini! :)

Ciao!

Advertisements

2 thoughts on “Faedah dari “How to Be Single”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s