Lucifer Season 2 on FOX – Monster

Tahun 2016 selain banyak musisi ciamik yang konser di Indonesia, juga banyak film bagus, game, buku dan TV series yang sayang banget kalau dilewatkan, tapi waktunya nggak ada buat nonton semuanya sekaligus. Dan munculnya juga barengan semua, sad. Niat saya sebenarnya adalah mau nulis tentang Lucifer setelah season 2 selesai, tapi apalah daya, baru episode 6 aja ku udah jatuh cinta.

lucifer-season-2-on-fox-monster

Photo: tvinsider.com

Jadi, Lucifer ini salah satu series di FOX yang menceritakan tentang Lucifer (Tom Ellis) yang bosen di Neraka terus akhirnya pindah ke bumi bareng tangan kanannya, Mazikeen (Lesley-Ann Brandt). Yang kemudian dia bekerja bareng seorang detektif, Chloe Decker (Lauren German) dan punya teman seorang therapist, Linda Martin (Rachael Harris). Lucifer yang udah kelamaan di bumi akhirnya disusul sama saudaranya, Amenadiel (D.B. Woodside) buat balik ke Neraka menjalani tugasnya.

Drama…
Drama…
Drama…

Lucifer yang seharusnya ‘kebal’ sama serangan benda-benda selain benda-benda surgawi, malah jadi lemah banget kalau ada Chloe Decker. Penyebabnya, nggak lain nggak bukan; feeling. Sampai di akhir Season 1, Lucifer diperlihatkan terkapar bersimbah darah. Mati. Lucifer balik ke surga tapi Bapaknya menyuruhnya untuk balik lagi ke bumi karena ada roh yang melarikan diri, Ibunya. Season 1 tamat.

Di season 2 ini, Ibunya Lucifer udah nongol dan harusnya Lucifer ngebawa Ibunya kembali atau nyawa Chloe yang jadi taruhannya. Cuma entah gimana, Lucifer dan Amenadiel nggak ngebawa-bawa Ibunya balik, disamping Amenadiel udah nggak punya kekuatan malaikatnya lagi. Di episode 4, datanglah Uriel (Michael Imperiolli), adiknya Lucifer yang nagih janjinya Lucifer ke Bapaknya.

Drama…
Drama…
Drama…

Sampai di akhir episode 5, Uriel dan Lucifer bertengkar hebat. Udah nggak kekontrol dan akhirnya, (seperti gelap mata) Lucifer menusukan Belati Azrael ke Uriel, menyebabkan Uriel mati, lenyap. Episode 5 udah cukup bikin emosi saya naik turun dan ternyata episode 6 lebih bikin emosi saya nggak karu-karuan.

Episode 6 diawali dengan Lucifer yang kacau balau karena merasa bersalah udah ngebunuh Uriel. Getting drunk, make out with girls, telat datang ke crime scene. It’s not about he’s almost drunk (because he told Decker like, “supernatural metabolism keeps getting in the way” – drunk) but he’s blaming himself. Dari awal episode ini, saya udah dibawa untuk merasakan carut-marutnya mental Lucifer. Lucifer yang diceritakan sebagai makhluk surgawi, iblis, monster, zat yang menyiksa orang-orang, you-name-it, bisa merasakan segitu bersalahnya ketika dia ngebunuh adiknya, Uriel. But, still trying to do his job. Maze yang disukai sama Trixie, anaknya Chloe. Sampai Doctor Linda Martin yang in the end nggak bisa apa-apa. Tapi dari semua kecarut-marutan emosional di episode 6, masih ada faedah yang bisa diambil dari Lucifer ini. Kayak…

You had one job. Finish it!

Lucifer kacau. Semalam suntuk minum, party, jadi orang nggak kondusif, menyebalkan. Tapi, Lucifer masih tetap menyelesaikan tugasnya untuk ngebantu Chloe tentang kasus pembunuhan berencana pada episode ini. And he did it! Walaupun dengan attitude yang menyebalkan.

Sama seperti manusia, yang harus tetap face the world ketika kondisi mental lagi nggak support seseorang untuk melakukan apapun. Bahkan untuk bangun dari ranjang aja kadang nggak mampu kalau emang mental yang dihajar. Kondisi kayak gini bisa menjadikan seseorang tetap mengerjakan kewajibannya (because we have to pay our bills, of course), namun dengan standar yang nggak sebagus biasanya.

 

Jangan pernah sekalipun asal judge orang lain

Masih dengan Lucifer yang kacau. Well, hampir selama episode 6, Lucifer ini emang kacau dari segalanya. Lucifer dan Chloe ke rumah sakit untuk mendapatkan berkas-berkas terkait case yang sedang mereka tangani. Dan (Kevin Alejandro), yang ngebantu Chloe –yang juga suami dari Chloe, tapi mau bercerai- nggak bisa dapat izin untuk mendapatkan berkas-berkas yang mereka perlukan sampai akhirnya Lucifer pergi sebentar dan ngasih mereka berkas-berkas tersebut.

Dan gengges karena ternyata badge sama senjatanya tau-tau ada di tangan Lucifer tanpa diketahuinya dan digunakan untuk mendapatkan berkas-berkas tersebut. Keduanya ‘adu mulut’ sampai akhirnya…

Dan: You never do what you have to do, Lucifer. You only ever do what you want to.
Lucifer: That is not true. There’s a lot of things that I didn’t want to do.
Dan: Oh, really?
Lucifer: Yes. Because if I only ever did what I wanted to do, then right now, I’d do this.

Kemudian Lucifer nonjok Dan.

Saya sebagai yang nonton, paham kalau akhirnya Lucifer melakukan hal seperti itu ke Dan. Karena Dan nggak tau apa yang sedang atau bikin Lucifer jadi kacau seperti itu. But maaan… life will always fucks you, no matter what. Kayak Lucifer yang udah berhasil dapetin berkas-berkas untuk ngebantu mereka, tapi mereka malah lebih fokus ke inappropriate things yang udah dilakukan Lucifer. Yang sebenarnya bisa diomongin baik-baik sama Dan. Bercandain aje sih, ngurat banget kayak bakso~

Nggak ada yang pernah bisa nolong, kecuali dirimu sendiri

Di akhir episode, Lucifer kembali mengunjungi the one and only, Doctor Linda Martin, yang selalu mendengarkan cerita serta keluh kesah Lucifer. Permasalahannya adalah Doctor Linda selalu mengira apapun yang diceritakan Lucifer tentang Neraka, dia iblis, Silver City hanyalah metaphors.

Doctor Linda: I need you to be honest with me. completely honest about who you are.
Lucifer: Completely hones? Are you sure?
Doctor Linda: Yes, I’m sure. That’s what all of these session, our entire relationship is all about. Getting to know the real Lucifer. No more lies. No more metaphors.
Lucifer: Very well

lucifer-season-2-on-fox-monster

Dan dengan tenangnya Lucifer balik lagi ke wujud manusianya dan meninggalkan Doctor Linda yang speechless dan nggak gerak sama sekali setelah ia menunjukan wujud aslinya.

lucifer-season-2-on-fox-monster

saya kok nyere hateee lihat ekspresi Lucifer kayak gini :’

Ini part terfavorit sepanjang episode 6 ini. Part paling meaningful. Saya seperti ikut merasakan patah hatinya Lucifer ketika satu-satunya manusia yang akhirnya bisa ia tunjukan the real Lucifer hanya bisa mematung setelah tau siapa Lucifer sebenarnya. Doctor Linda can’t handle this anymore. Tipikal manusia yang bingung nggak tau harus bagaimana ketika kapasitas diri mereka belum cukup untuk menghadapi masalah besar yang dihadapi orang lain. Bahkan untuk sekedar cerita. Ujung-ujungnya, yang harus berusaha untuk kehidupan seorang individu ya dirinya sendiri.

Selain faedah yang bisa saya ambil di atas, Lucifer episode 6 juga berhasil bikin saya bertanya-tanya, Ibunya Lucifer nih maunya apa??? Saya merasakan hawa-hawa licik dari beliau. Terlebih ketika ia mengajak Amenadiel ke tempat dimana Lucifer mengubur Uriel. Di situ, Amenadiel mulai mempertanyakan kuasa Ayahnya. Kenapa Ayahnya membiarkan Uriel mati? Kenapa Ayahnya membiarkan ini semua terjadi? Nggak beda jauh sama cerita-cerita yang menghadirkan salah satu karakternya yang taat sama Tuhan dan hidup enak tiba-tiba dikasih cobaan yang bikin hidupnya nggak tenang siang dan malam; mulai mempertanyakan andil Tuhan dalam kehidupannya.

Very well.. keseluruhan saya suka sama gimana orang-orang di balik Lucifer ngebungkus semuanya. Kasus-kasus kejahatan yang mostly dibuat seperti cerminan masalah pada Lucifer, metaphors-nya Lucifer. Issues yang dihadapi sama anak-anak Tuhan yang literally anak-anak Tuhan. Sama satu lagi, kalimat Ibunya yang agak menggelitik saya…

“Trying to please your Father by doing what you think is right?”

Ciao!

Advertisements

5 thoughts on “Lucifer Season 2 on FOX – Monster

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s