Jangan Menghilang

Tuhan maha memberi
Diberikannya rasa kepada Nona, ketika memandang si Tuan.
Diberikannya rasa syukur mendalam, atas hadirnya Tuan.
Diberikannya getaran di dada Nona, ketika menggenggam tangan Tuan.

 

Tuan memesan secangkir espresso lagi, untuk mengulur waktu. Tuan menahan egonya untuk tetap mendekap sang Nona. Mereka masih terjebak dalam diam, dengan pikiran yang sama-sama kalut. Kusut.

Tuan memantapkan hati, menahan ego sendiri, agar semua lebih baik. Nona menahan sedih, hendak menangis, karena keputusan orang terkasih.

Nona terlalu banyak melempar tanya. Tuan masih menentukan hatinya ingin kemana. Nona sadar, Tuan menyebalkan karena masih menyayanginya.

“Baiklah, mari kita coba bersama.”

Nona memecah keheningan. Menyetujui pinta Tuan yang masih kebingungan. Nona berlalu, meninggalkan Tuan dengan sisa senyuman. Lubuk hati Nona terisak, kehilangan Tuan yang membuat harinya penuh senyuman.

 

Tuhan maha bercanda.

Dalam Diam

Nona hanya duduk di sudut ruangan.
Menyapukan pandang ke hampir semua orang.
Tak lupa senyum ceria bak bangsawan.
Sadarkah Nona ada hati yang tertawan?

Nona duduk tertunduk di sudut coffee shop, tubuhnya bergetar menahan rasa yang dirinya sendiri tidak bisa mengartikannya. Tuan masih memandangnya lekat-lekat. Kadang matanya terpejam begitu dalam, seperti ingin menelan sang lawan bulat-bulat. Aroma kuat dari espresso kesukaan Tuan tak lantas membuat jernih pikirannya. Tuan dan Nona masih terombang-ambing dalam diam, suram.

Nona masih tertunduk, giginya gemeretak, badannya bergetar.

“Saya akan menghilang kalau itu mau kamu.”

Nona memecah keheningan. Tuan terhujam jantungnya. Berantakan.

Nona masih bergetar tubuhnya. Tuan masih terpaku raganya. Kesunyian menemani dunia mereka.

Dalam diam, Nona berusaha mencerna.
Dalam diam, Tuan berusaha menerima.
Dalam diam, mereka masih saling mencinta.

Kenapa Kau Datang?

Tiba-tiba dirimu datang.
Dirimu yang pernah hilang ditelan rasa.
Kembali hadir dengan rasa yang sama.
Menimbulkan getar di dada.

Kenapa kamu kembali datang?
Hanya untuk meluapkan rasa?
Sekedar melepas rindu semata?
Atau kembali ingin menjalin rasa bersama?

Tuhan sedang bercanda.
Kita sadar kita berbeda.
Benteng pun menjulang sampai ke angkasa.
Hingga rasa, tak lagi dapat bersama.

Tugas Risa Sudah Selesai

Sinar lampu menyilaukan pandanganku. Aku terbaring dengan tatapan yang semakin buram. Pikiranku sejenak melayang-layang tanpa beban. Sebuah kalimat yang berhasil membuatku jatuh ke relung penderitaan paling dalam terngiang. Senyum wajahnya hadir menyekat cahaya yang kuterima, samar. Semakin lama, raut wajahnya semakin nyata. Ekspresinya berganti menjadi cemas, tapi aku berusaha meyakinkannya kalau aku baik-baik saja. Bulir air mata menghiasi pipinya, pipi yang selalu kukecup mesra. Mataku terpejam dan tak bisa terbuka lagi, diiringi dengan nafas panjang untuk terakhir kali, meninggalkan lelaki yang sangat aku cintai.

Continue reading